Risiko bising, pesawat gagal terbang atau gagal mendarat yang bisa menimpa pemukiman adalah beberapa risiko jika tinggal dekat bandara.
Tapi menurut penelitian terbaru tinggal di daerah bising dapat meningkatkan risiko serangan jantung fatal, terutama bagi orang yang tinggal di dekat bandara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai perbandingan, percakapan normal berada kisaran 50 Db, jalan lalu lintas sekitar 70 Db, mesin pemotong rumput sekitar 90 Db. Dan paparan berulang dari suara di atas 85 Db diketahui dapat menyebabkan kehilangan pendengaran permanen.
Peneliti percaya bahwa kebisingan pesawat dapat meningkatkan level stres, mengganggu tidur dan menyebabkan kenaikan tekanan darah.
"Efeknya terutama jelas bagi orang-orang yang terpapar kebisingan tingkat tinggi dan tergantung pada berapa lama orang tersebut tinggal di tempat yang bising," jelas Dr Matthias Egger, peneliti dari University of Bern, Swiss, seperti dilansir dari Dailymail, Kamis (14/10/2010).
Menurut Dr Egger, ini bukan kali pertama penelitian yang mengaitkan efek tinggal dekat bandara dengan efek kesehatan negatif, termasuk masalah jantung.
"Namun studi terbaru ini menunjukkan bahwa suara pesawat (bukan hanya polusi udara dari mesin) berpotensi mematikan," tegas Dr Egger.
Dalam penelitian ini, Dr Egger dan koleganya menggunakan data rinci dari Swiss National Cohort dan mengidentifikasi 15.532 kematian serangan jantung dari warga Swiss antara tahun 2000-an dan akhir tahun 2005.
Dari hasil studi yang telah dipublikasikan jurnal Epidemiology, Dr Egger menjelaskan bahwa orang-orang yang terpapar kebisingan rata-rata lebih dari 60 Db setiap hari memiliki 30 persen risiko kematian karena serangan jantung lebih besar ketimbang orang yang terpapar kebisingan kurang dari 45 Db.
"Bahkan, bagi orang yang tinggal di dekat bandara selama 15 tahun atau lebih, risikonya bisa menjadi 50 persen lebih," tutur Dr Egger.
(mer/ir)










































