Berdasarkan hasil analisa yang diterbitkan dalam Archives of Dermatology diketahui sekitar 1 dari 80 laki-laki yang mengonsumsi obat ini mengalami disfungsi ereksi. Mesipun laki-laki ini juga mengatakan kalau rambutnya kini menjadi lebih tebal.
"Namun sepertinya mereka tidak mungkin berhenti minum obat tersebut, karena seseorang yang menggunakan obat ini benar-benar lebih memilih untuk tetap memiliki rambut," ujar penulis studi Dr Jose Manuel Mella dari Rumah Sakit Aleman di Buenos Aires, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (22/10/2010).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara klinis kondisi kebotakan pada laki-laki ini dikenal sebagai androgenetic alopecia yang biasanya terjadi pada usia 50 tahun.
Beberapa studi telah meneliti efektivitas dari finasteride. Obat ini memiliki kecenderungan untuk mempertahankan dan meningkatkan jumlah rambut dari waktu ke waktu selama masa pengobatan. Semakin lama seseorang menggunakannya, maka semakin besar pula efeknya.
"Namun obat ini ternyata dapat meningkatkan risiko efek samping seksual yang mempengaruhi 1 dari 80 laki-laki, karenanya pasien harus membicarakan pilihan pengobatan dengan dokternya," ungkap Dr Mella.
Sementara itu Dr Matt Leavitt yang ikut terlibat dalam studi ini menuturkan bahwa ia tidak terkejut dengan temuan yang ada.
Seperti diketahui bahwa obat ini bekerja dengan baik pada sebagian besar pasien, untuk itu dibutuhkan dosis yang cukup agar bisa meminimalkan risiko masalah seksual yang mungkin timbul.
(ver/ir)











































