Pemusnahan Anjing Rabies Membabibuta

Pemusnahan Anjing Rabies Membabibuta

- detikHealth
Jumat, 29 Okt 2010 07:31 WIB
Pemusnahan Anjing Rabies Membabibuta
Ubud, Bali - Ketakutan berlebihan terhadap wabah rabies membuat masyarakat cenderung panik. Akibatnya bukan hanya terjadi pembantaian anjing yang membabi buta. Padahal tidak semua anjing yang menggigit adalah anjing rabies.

Kondisi ketakutan akan rabies tersebut terjadi di Bali. Ketika ada yang digigit anjing warga langsung melakukan penyisiran terhadap anjing rabies kemudian dibunuh dengan racun strichnin yang menyiksa karena matinya lama.

"Dokter umumnya tidak mau ambil risiko. Jika ada yang digigit anjing dan minta vaksin, langsung diberi meski yang menggigit belum tentu anjing rabies," ungkap Prof Dr I Gusti Ngurah Mahardika, dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana dalam diskusi dengan media di Hotel Yulia Village Inn, Ubud, Kamis malam (28/10/2010).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kecenderungan seperti ini umumnya terjadi pada masyarakat perkotaan yang memiliki akses informasi lebih baik terkait bahaya rabies. Hal ini kadang menyebabkan reaksi berlebihan, ada yang luar biasa panik meski yang menggigit anjing peliharaannya sendiri.

Sedangkan jika yang menggigit adalah anjing liar, ada kecenderungan masyarakat untuk menangkap anjing tersebut lalu membunuhnya. Padahal ada banyak hal yang menyebabkan anjing menjadi agresif, bukan hanya karena terkena rabies.

Untuk mengetahui apakah anjing itu positif rabies, anjing itu seharusnya ditangkap lalu dikarantina selama 1 minggu. Jika positif terinfeksi, anjing itu akan menunjukkan gejala klinis rabies dalam masa karantina.

Dalam kondisi ini, Prof Mahardika setuju untuk membinasakan anjing asalkan dengan cara yang 'manusiawi' yakni euthanasia dengan preparat barbiturat. Sayangnya Indonesia belum punya, sementara izin untuk mengimport preparat
tersebut hingga kini belum diberikan oleh Departemen Pertanian.

"Selama ini anjing dibunuh dengan racun strichnin yang tidak manusiawi karena matinya lama sehingga sangat menyiksa. Barbiturat membunuh anjing secara perlahan karena berupa obat bius, hanya saja dosisnya lethal atau mematikan," ungkap Prof Mahardika.

Terkait gigitan anjing, Prof Mahardika punya kisah sendiri yakni ketika istrinya digigit anjing liar di bagian kaki sekitar 6 bulan yang lalu. Sejak saat itu, istrinya sama sekali tidak mendapatkan vaksin dan masih sehat hingga saat ini.

Karena kebetulan anjing liar itu setiap hari melintas di dekat rumahnya, Prof Mahardika hanya meminta sang istri untuk mengamatinya selama 1 minggu. Ternyata dalam 1 minggu tidak ada perubahan perilaku pada anjing itu dan bahkan tak lama kemudian beranak pinak.

"Artinya anjing itu sehat, tidak tertular rabies. Kalaupun ternyata rabies, belum terlambat untuk mendapatkan vaksin karena setelah digigit sudah dicuci dengan detergen dan air mengalir," ungkap Prof Mahardika.

(up/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads