"Jika tidak perlu sekali, sebaiknya tidak usah keluar rumah. Kalaupun harus keluar, jangan lupa pakai masker dan kacamata," ungkap Kepala Dinas Kesehatan DIY, Bondan Agus Suryanto saat dihubungi detikHealth, Jumat (5/11/2010).
Menurutnya, gangguan pernapasan merupakan keluhan yang paling banyak dirasakan saat ini. Pekatnya hujan abu yang mengguyur Yogyakarta beberapa hari terakhir menyebabkan banyak orang mengalami sesak napas karena menghirup partikel-partikel debu vulkanik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika tidak ada tetes mata, bisa juga dengan cara matanya dirambang (direndam dalam air). Tapi sebisa mungkin kalau agak parah langsung dibawa ke tempat-tempat layanan kesehatan," tambahnya.
Menurut Bondan, hujan abu vulkanik tidak terlalu berdampak pada kulit. Beberapa warga memang mengalami alergi, namun sebagian besar belum terlalu membutuhkan perlindungan khusus pada kulitnya saat bepergian di tengah hujan abu.
Salah satu warga yang mengaku alergi terhadap abu vulkanik dari Gunung Merapi adalah Dhenok, mahasiswa UGM yang tinggal di kawasan Baciro Yogyakarta. Kulitnya terasa perih jika pergi ke luar rumah tanpa mengenakan jaket atau baju lengan panjang.
"Abu vulkanik itu mengandung silika, semacam serat kasar yang kalau dilihat dengan mikroskop ujungnya runcing-runcing. Terasa sekali sakitnya kalau naik motor pakai baju lengan pendek," kata Dhenok.
(up/ir)











































