Sulitnya Mendeteksi Obat Palsu

Sulitnya Mendeteksi Obat Palsu

- detikHealth
Senin, 22 Nov 2010 16:26 WIB
Sulitnya Mendeteksi Obat Palsu
Jakarta - Jika uang palsu bisa dideteksi oleh masyarakat melalui 3 cara dilihat, diraba, diterawang, maka tidak halnya untuk obat palsu. Obat palsu sangat sulit dibedakan dengan obat asli jika hanya melalui visual saja.

Sangat sulit membedakan obat palsu dan yang asli jika hanya melalui tampilan fisik saja. Umumnya obat palsu dapat diketahui melalui pemeriksaan laboratorium, sehingga dapat diketahui kandungan senyawa atau zat aktifnya.

"Kalau secara kasat mata agak repot membedakan antara obat yang palsu dengan yang asli," ujar Dra Lucky S Slamet, MSc selaku Deputi Bidang Pengawasan Produk Terapeutik dan Napza BPOM, dalam acara forum diskusi media 'Obat Palsu Mengancam Kesehatan Masyarakat' di Hotel Nikko, Jakarta, Senin (22/11/2010).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meskipun ada beberapa obat yang bisa terlihat perbedaannya melalui visual walaupun tidak semua obat, seperti:
  1. Kapsul CODIPRONT, pada obat yang palsu tertulis produsennya adalah PFizer, padahal obat ini diproduksi oleh PT Kimia Farma.
  2. Tulisannya kadang terlihat lebih kabur atau tidak terlalu jelas.
  3. Ceradolan injection, pada obat cair ini setelah 4 hari seharusnya warnanya berubah dari kuning menjadi lebih gelap, tapi pada obat yang palsu warnanya tidak berubah.

"Satunya-satunya jalan agar terhindar dari obat palsu adalah membeli obat di apotik terpercaya, jika ingin membeli obat bebas atau bebas terbatas periksa kembali nomor registrasi serta kemasannya ada yang bocor atau tidak. Selain itu kalau ada sisa obat sebaiknya dibuka lalu isisnya dihancurkan atau dilarutkan agar obat tersebut tidak bisa dijual lagi," ungkapnya.

Selain itu Dr Slamet Budiarto, SH, MH.Kes selaku Sekjen Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menuturkan salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengendalikan harga obat.

"Harga obat kita ini termahal kelima di dunia, jadi orang yang kaya bisa saja menjadi jatuh miskin. Karenanya pengendalian harga obat bisa menjadi salah satu cara," ungkapnya.

Bentuk, warna dan kemasan obat palsu sangat mirip dengan obat asli, agar tidak salah beli ada beberapa hal yang bisa dilakukan masyarakat, yaitu:
  1. Periksa kemasan obat dengan teliti, apakah masih tersegel dengan baik atau tidak.
  2. Periksalah label obat, nama obat, nama produsen dan tanggal kadaluarsa.
  3. Sampaikan pada dokter jika tidak ada kemajuan setelah minum obat.
  4. Tebuslah obat resep di apotik agar terjamin keasliannya, dan jangan di toko-toko obat sembarangan.

Selain itu pencegahan obat palsu dapat dilakukan secara efektif melalui:
  1. Pertukaran informasi secara berkala mengenai obat palsu antara regulator obat yang berwenang, industri farmasi, badan hukum yang terkait dan organisasi internasional seperti WHO, Interpol dan World Custom Organization.
  2. Adanya kerjasama antara pihak-pihak terkait untuk bersama mengukur pencegahan peredaran obat palsu secara global.
  3. Adanya penerapan mekanisme yang sama di seluruh dunia dalam mengawasi perdagangan obat palsu.
(ver/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads