Padamnya semangat hidup alias burnout tidak bisa dipandang remeh karena sangat mempengaruhi produktivitas seseorang. Namun penanganan burnout sering tumpang tindih dengan depresi, sehingga tidak tertangani dengan baik dan kadang malah memburuk.
Keduanya memang memiliki gejala yang hampir sama misalnya kurang motivasi dan tidak bergairah, karena burnout pada dasarnya terjadi akibat depresi kronis yang tidak tertangani. Namun dilihat dari kondisi hormonal yang mempengaruhi, keduanya memiliki perbedaan yang mendasar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perbedaan kadar kortisol terjadi karena kondisi itu psikologis mempengaruhi sistem pengaturan hormon pada tubuh manusia," ungkap peneliti masalah kejiwaan dari Louis-H Lafontaine Hospital, Dr Sonia Lupien seperti dikutip dari Health24, Selasa (22/2/2011).
Tanpa deteksi yang akurat, gejala burnout sering tidak tertangani dengan tepat. Karena dikira masih depresi, seseorang yang mengalami burnout sering mendapat antidepresan yang fungsinya adalah menurunkan kadar kortisol. Padahal pada fase burnout, kadar kortisol sudah sangat rendah.
Deteksi yang diklaim paling akurat dikembangkan baru-baru ini oleh tim gabungan dari Louis-H Lafontaine Hospital dan University of Montreal, Kanada. Para ahli dalam penelitian itu menggunakan air ludah yang diambil pada pagi hari, karena diyakini paling mewakili kondisi hormonal seseorang.
Metode yang dikembangkan dalam penelitian itu telah dibuktikan akurasinya pada sekitar 30 relawan paruh baya yang mengalami berbagai gangguan kejiwaan yang meliputi stres, depresi dan burnout. Pemeriksaan kadar kortisol melalui air ludah pada pagi hari menunjukkan hasil yang sesuai dengan hasil tes darah maupun psikotes.
(up/ir)











































