Selasa, 15 Mar 2011 16:11 WIB

60 Persen Penderita Hepatitis di Indonesia Sulit Diobati

- detikHealth
Jakarta - Penyakit hepatitis disebabkan oleh beberapa jenis genotipe virus yang berbeda-beda. Tapi sekitar 60 persen penderita hepatitis di Indonesia disebabkan oleh jenis virus yang sulit diobati.

"Penderita hepatitis di Indonesia paling banyak memiliki genotipe virus 1A dan 1B yang termasuk jenis virus yang sulit diobati," ujar Prof Dr Ali Sulaiman, SpPD-KGEH dalam acara Pelatihan Manajemen Hepatitis C di Gedung A RSCM, Selasa (15/3/2011).

Prof Ali menuturkan genotipe dari hepatitis bermacam-macam dan sekitar 60 persen penderita hepatitis di Indonesia disebabkan oleh virus yang sulit diobati. Hal ini karena virus tersebut mudah bermutasi sehingga sulit ditemukan vaksinnya.

"Sistem imun yang sudah ada dibuat sulit mengenali atau melihat virus tersebut, jadi dalam istilah kasarnya virus ini seperti 'bunglon'," ungkap dokter yang mendapatkan gelar PhD dari Kobe Jepang tahun 1989.

Prof Ali mengungkapkan penyakit hepatitis ini biasanya ditularkan melalui darah yang sebagian besar akibat kontak luka dengan luka, seperti jarum suntik, gunting kuku, alat menikur dan pedikur atau dari alat cukur rambut.

Sebagian besar orang yang terinfeksi hepatitis (9 dari 10 penderita) tidak menunjukkan gejala sehingga disebut sebagai silent disease, padahal jika tidak ditangani dengan baik sekitar 15-20 tahun mendatang bisa menyebabkan kelainan hati serius seperti sirosis dan juga kanker hati.

"Masalah hepatitis sebaiknya mendapat perhatian yang serius karena jumlahnya 10 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan penderita HIV," ujar Dr Unggul Budihusodo, SpPD-KGEH.

Berdasarkan survei yang melibatkan departemen P2PL Kemenkes, Roche dan PPHI pada tahun 2007 diketahui dari 21 propinsi yang ada di Indonesia jumlah penderita hepatitis C paling banyak pada usia 30-39 tahun yaitu sebesar 26,9 persen dengan jumlah laki-laki lebih banyak, dan penularannya paling banyak berasal dari penggunaan jarum suntik secara bergantian.

"Saat ini skrining masih menjadi masalah di Indonesia. Jika program skrining bisa dilaksanakan di Jakarta saja maka setiap bulannya akan dijaring 50 ribu kasus hepatitis B dan 15 ribu kasus hepatitis C. Jika terdeteksi lebih awal maka bisa mencegah kelainan hati yang serius," ujar Prof Ali.

Sebagian besar penderita hepatitis baru mengetahui jika dirinya terinfeksi saat melakukan pemeriksaan kesehatan (medical chek up) atau saat mau donor darah. Padahal penyakit ini bisa menurunkan kualitas hidup seseorang dan menimbulkan komplikasi serius.

Penyakit hepatitis ini sudah ada sejak abad 5 SM (sebelum masehi) dan dikenal dengan nama penyakit kuning, tapi sekarang penyakit ini dikenal dengan nama hepatitis. Terdapat berbagai macam jenis virus hepatitis yaitu hepatitis A, B, C, D, E dan G. Namun infeksi yang paling sering ditemukan dan menjadi masalah kesehatan dunia adalah hepatitis B dan C.

(ver/ir)