Senin, 02 Mei 2011 14:31 WIB

Pendidikan Gizi Harus Masuk Kurikulum Sekolah

- detikHealth
Jakarta - Saat ini pendidikan mengenai gizi pada anak sekolah masih belum menjadi prioritas utama, padahal gizi berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Untuk itu pendidikan gizi sebaiknya masuk dalam kurikulum sekolah.

Masalah gizi yang salah pada anak sekolah dasar tidak kalah pentingnya dibanding masalah kesehatan lainnya. Masalah yang timbul tidak hanya sebatas gizi berlebih tapi juga gizi kurang pada anak-anak. Apabila gizi salah semacam ini dibiarkan tanpa penanganan sistematis dan terencana maka akan berdampak bagi kesehatan, kebugaran dan kecerdasannya.

"Pendidikan gizi seharusnya masuk dalam kurikulum sekolah, di beberapa negara telah menerapkan pendidikan gizi di dalam kurikulum sekolahnya," ujar Dr Tirta Prawita Sari, MSc selaku Ketua Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi di SDN 02 Menteng, Jakarta Pusat, Senin (2/5/2011).

Dr Tirta menuturkan pendidikan gizi ini seperti halnya pendidikan jasmani karena akan mempengaruhi kebugaran dan kesehatan anak. Diharapkan dengan masuknya pendidikan gizi anak akan mampu memahami, meningkatkan kesadaran anak dan mempraktikkan pedoman gizi seimbang.

Berdasarkan data yang dilaporkan oleh Dr.Saptawati Bardosono, ahli gizi dari Universitas Indonesia diketahui sebesar 94, 5 % dari 220 anak yang diteliti di 5 SD di wilayah DKI Jakarta mengkonsumsi kalori di bawah 1800 kkal.

Padahal menurut angka kecukupan gizi (AKG) rata-rata yang dianjurkan perorang/perhari untuk anak usia 6 tahun, kebutuhan energi dan proteinnya berturut-turut sebesar 1.550 kkal dan 39 g. Ketika memasuki umur 7-9 tahun, kebutuhan energi dan proteinnya meningkat menjadi masing-masing sebesar 1800 kkal dan 45 g. Selanjutnya, ketika berumur 10 tahun, kebutuhan energi dan proteinnya meningkat lagi menjadi masing-masing sebesar 2.050 kkal dan 50 g.

"Problem anak sekolah adalah jajanan yang biasa ia konsumsi tidak ada nilai kalorinya serta memiliki kandungan nutrisi yang rendah atau mungkin tidak ada. Selain itu tidak ada kontrol bagi jajanan kaki lima tersebut," ujar Dr Tirta.

Selain memasukkan pendidikan gizi ke dalam kurikulum sekolah, Dr Tirta juga menghimbau beberapa hal dalam upaya membentuk serta membina generasi emas di masa depan, yaitu:


  1. Mengajarkan menjaga kebersihan dan memperhatikan label pembungkus atau kaleng makanan untuk menghindari makanan tercemar ataupun kedaluwarsa.
  2. Menyediakan jajanan sehat, bersih dan aman serta pengawasan terhadap seluruh jajanan yang ada di sekitar sekolah yang dapat diakses oleh anak didik.
  3. Pihak sekolah memfasilitasi dan mendampingi muridnya agar membentuk kelompok teman sebaya di sekolah maupun di luar sehingga dapat saling bertukar informasi dan perilaku positif dalam membudayakan pola hidup sehat dengan gizi seimbang.
  4. Terselenggara program advokasi dan sosialisasi kepada pihak terkait dengan gizi seimbang sebagai upaya penanggulangan gizi salah pada anak usia sekolah.
  5. Pemerintah menyediakan akses pelayanan dan konsultasi kesehatan yang berkualitas kepada anak sekolah.
 




(ver/ir)