Data American Society of Breast Surgeons di Washington, DC menemukan bahwa perempuan dengan implan payudara memiliki tingkat mamografi negatif palsu yang lebih tinggi daripada populasi umum lainnya. Kondisi ini membuat perempuan harus melakukan tes tambahan lainnya.
"Jika perempuan dengan payudara implan lebih berisiko mengalami kanker payudara, maka ia disarankan melakukan tes tambahan MRI selain mamografi," ujar Dr Sheldon Feldman, kepala operasi payudara di Columbia University Medical Centre, New York, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (18/5/2011).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tim peneliti menguji pasien dengan melakukan tes perabaan, ukuran tumor, spesifikasi kelangsungan hidup kanker payudara dan juga faktor lain dari pasien yang terkait dengan terjadinya kanker. Didapatkan hasil negatif palsu pada pasien dengan implan payudara sebesar 35 persen, sedangkan yang tidak implan hanya 15 persen.
Salah satu alasan yang mungkin terkait dengan hasil tersebut adalah pada metode augmentasi. Orang umumnya menggunakan implan di atas otot dada yang membuat hasil mamografi cenderung sulit untuk dibaca. Bahkan metode implan yang baru pun tetap menimbulkan beberapa kesulitan selama melakukan skrining.
Umumnya perempuan melakukan implan payudara karena ingin menambah kepercayaan dirinya, ia akan berpikir lebih percaya diri jika memiliki ukuran payudara yang besar. Tapi sayangnya banyak perempuan yang melakukan implan dengan menggunakan bahan berbahaya seperti string polypropylene yang terbuat dari semacam polimer plastik.
Untuk itu jika ingin melakukan implan payudara sebaiknya dilakukan oleh tenaga profesional serta menggunakan bahan yang sudah diketahui keamanannya oleh badan pemeriksa setempat. Hal ini untuk menghindari implan bocor atau pecah yang bisa berbahaya bagi tubuh.
(ver/ir)











































