Bukan untuk urusan sepele saja, bahkan ketika berada di medan pertempuran pria dan wanita sama-sama akan menghadapi kondisi yang bisa memicu stres. Dampaknya akan dirasakan setelah perang berakhir, atau habis masa tugasnya lalu dipulangkan.
Sebagian besar prajurit, baik pria maupun wanita akan mengalami kondisi yang disebut Gangguan Stres Pasca Trauma atau Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Gejalanya bervariasi, namun yang paling banyak dilaporkan adalah gelisah (anxious) sepanjang waktu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal menurut penelitian di Boston University, pemicu stres yang dihadapi prajurit wanita di markas tidak kalah banyak dibanding pria di lapangan. Bentuknya bermacam-macam, mulai dari proses adaptasi dengan lingkungan baru hingga pelecehan seksual dari sesama prajurit.
Ketika membandingkan kondisi para prajurit Amerika Serikat sebelum dan sesudah ditugaskan ke Irak dan Afghanistan, para peneliti menyimpulkan bahwa prajurit pria maupun wanita menghadapi level stres yang relatif sama. Level stres pada prajurit wanita sedikit lebih rendah, namun tidak signifikan.
Namun ketika disesuaikan dengan berbagai faktor, level stres pada prajurit pria maupun wanita tidak mempengaruhi lamanya waktu untuk memulihkan kondisi mentalnya. Secara umum, mantan prajurit pria tidak lebih cepat dari wanita untuk bangkit dari stres.
(up/ir)










































