Sebuah perusahaan konsultan perjodohan, Relationships Australia baru-baru ini menggelar survei tentang hubungan tingkat penghasilan dengan frekuensi bercinta. Selain itu, survei ini juga mengungkap pengaruh jejaring sosial di internet terhadap hubungan asmara.
Hasil survei menunjukkan, responden berpenghasilan di atas US$ 80.000/tahun (sekitar Rp 56,9 juta) rata-rata 2 kali lebih sering berhubungan seks dibandingkan yang berpenghasilan di bawah US$ 60.000/tahun (sekitar Rp 512,25 juta). Dalam angka, perbandingannya adalah 81:44 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tanpa melihat tingkat penghasilan, secara umum frekuensi bercinta di tahun 2011 mengalami penurunan sebesar 3 persen dibanding tahun 2008. Khusus pada kelompok usia 70 tahun ke atas, frekuensi bercinta justru meningkat dari 17 persen di tahun 2008 menjadi 25 persen di tahun 2011.
Berkurangnya frekuensi bercinta pada sebagian besar responden diduga berhubungan dengan maraknya jejaring sosial di internet. Dikutip dari News.com.au, Kamis (21/7/2011), jejaring sosial mengurangi kesempatan tatap muka sehingga tidak mungkin berhubungan seks.
Dugaan ini diakui oleh 16 persen responden yang menyatakan bahwa hadirnya jejaring sosial memberikan dampak buruk bagi kehidupan seksualnya. Sementara itu 57 persen menilai tidak ada pengaruhnya sama sekali dan sisanya 27 persen justru terbantu oleh jejaring di internet.
(up/ir)











































