Mengambil jatah liburan sedikit demi sedikit tetapi sering akan lebih menguntungkan, karena jarak antara liburan yang satu dengan yang lain tidak terlalu jauh. Pola ini dapat menjaga pikiran tetap jernih, segar dan produktivitas di tempat kerja juga akan meningkat.
"Faktanya, efek setelah liburan hanya berlangsung singkat. Artinya kita harus sering-sering berlibur jika ingin sehat dan lebih produktif," ungkap Dr Jessica de Bloom, peneliti dari Radboud University di Belanda seperti dikutip dari Telegraph, Selasa (2/8/2011).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat dilihat level stresnya, para pekerja rata-rata tampak paling rileks pada minggu pertama sepulang dari berlibur. Meski sebagian memiliki keluhan ringan seperti kulit terbakar serta kaki pegal-pegal, secara psikologis para partisipan lebih bersemangat saat bekerja.
Namun begitu memasuki hari ke-7, level stres berangsur-angsur meningkat dan lama-kelamaan kembali ke posisi awal seperti sebelum liburan. Titik balik pada level stres tersebut rata-rata terjadi pada hari ke-14, ketika efek liburan benar-benar sudah tidak tersisa.
Hasil penelitian ini diperkuat dengan temuan para ahli di Jerman. Dalam penelitian yang terpisah, para ahli di Jerman mengamati 131 guru yang memanfaatkan jeda pergantian tahun ajaran untuk berlibur atau sekedar menghabiskan waktunya bersama keluarga di rumah.
Para guru merasa lebih rileks dan bersemangat saat kembali mengajar, namun efek tersebut rata-rata tidak mampu bertahan lama. Lamanya efek liburan berpengaruh terhadap semangat kerja cukup bervariasi meski tidak ada satupun yang bertahan lebih dari sebulan.
(up/ir)











































