Bagi sebagian orang, cuaca buruk yang ditandai dengan perubahan temperatur dan tekanan udara bisa memicu migrain. Bahkan petir dan hembusan angin kencang saat terjadi badai juga dapat menyebabkan kepala mengalami nyeri di salah satu sisinya.
Untuk membuktikan adanya hubungan antara cuaca dengan migrain, baru-baru ini para peneliti dari University Clinic for Neurology di Wina Austria melakukan pengamatan pada 238 pasien migrain. Para partisipan diminta membuat catatan harian, sehingga bisa diketahui faktor-faktor yang memicu migrain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasilnya seperti dikutip dari Dailymail, Senin (8/8/2011), faktor cuaca tidak terlalu berpengaruh terhadap keluhan yang dialami para partisipan. Faktor-faktor lain seperti menstruasi, genetik atau riwayat migrain di keluarganya dan juga stres menunjukkan hubungan yang jauh lebih kuat dengan risiko migrain.
Hasil penelitian terbaru tersebut bertentangan dengan riset sebelumnya yang melibatkan 7.000 orang penderita migrain. Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat itu mengungkap, cuaca khususnya temperatur udara sangat erat pengaruhnya terhadap risiko migrain.
Berdasarkan catatan di sejumlah rumah sakit dan klinik, setiap terjadi peningkatan temperatur sebesar 5 derajat celcius risiko migrain juga mengalami peningkatan sebesar 7,5 persen. Beberapa di antaranya termasuk parah, sampai-sampai harus dilarikan ke rumah sakit.
(up/ir)











































