Kasus mengerikan ini terjadi di beberapa rumah sakit di distrik Junagadh, negara bagian Gujarat. Pemerintah setempat baru menyadarinya setelah program tranfusi darah gratis itu berjalan beberapa bulan, yakni sejak Januari hingga Agustus 2011.
Seluruh korban yang berjumlah 23 orang merupakan anak-anak pengidap thalassemia berusia 5-10 tahun, seluruhnya berasal dari golongan kurang mampu. Anak-anak tersebut memang membutuhkan tranfusi darah secara rutin, sehingga pemerintah berniat menggratiskan biayanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Juru bicara pemerintah setempat, Jai Narayan Vyas mengatakan pihaknya saat ini tengah menyelidiki kasus tersebut. Seperti diberitakan beberapa media lokal, Vyas mengatakan bahwa anak-anak tersebut terinfeksi tidak hanya dari satu rumah sakit saja.
Namun harian Indian Express seperti dikutip dari Dailymail, Selasa (13/8/2011) memberitakan, para orang tua korban mengklaim anak-anaknya hanya terinfeksi dari rumah sakit milik pemerintah. Sejauh ini tidak ada korban yang terinfeksi HIV di rumah sakit swasta.
Sementara itu seperti dikutip dari BBC, data organisasi kesehatan dunia atau WHO menunjukkan bahwa jumlah pengidap HIV (Human Immunodeficiency Virus) di India cukup tinggi yakni 2,3 juta orang. Negara bagian Gujarat bersama-sama dengan Bihar dan Uttar Pradesh menjadi penyumbang terbanyak yakni 22 persen.
Penularan HIV di fasilitas kesehatan bukan kali ini saja terjadi. Beberapa waktu silam, 5 pasien di 2 rumah sakit besar di Taiwan mendapatkan transplantasi atau cangkok organ yang karena kesalahan prosedur, belakangan baru diketahui donornya adalah pengidap HIV.
Sebelumnya di Amerika Serikat, ribuan pasien diabetes di sebuah klinik terpaksa harus menjalani pemeriksaan gara-gara perawatnya salah suntik. Perawat yang sudah berpraktik sejak tahun 2006 itu dikhawatirkan telah menularkan HIV pada para pasien.
(up/ir)










































