Peneliti dari University of Cambridge mengungkapkan fluktuasi kadar hormon serotonin dalam otak akan mempengaruhi bagaimana respons seseorang dalam mengatur kemarahannya, sehingga bisa melihat mengapa seseorang lebih mungkin bersifat agresif.
Studi ini memerupakan yang pertama dalam menunjukkan bagaimana bahan kimia ini membantu mengatur perilaku dalam otak. Hasil studi ini diterbitkan dalam jurnal Biological Psychiatry.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi ini menunjukkan ketika kadar serotonin di otak rendah maka akan sulit bagi daerah otak korteks prefrontal untuk mengontrol respons emosional terhadap kemarahan yang dihasilkan dalam amigdala.
Jika komunikasi lemah maka lebih sulit bagi korteks prefrontal untuk mengontrol perasaan marah yang dihasilkan dalam amigdala. Akibatnya orang-orang ini akan cenderung lebih agresif dan paling sensitif.
"Teknologi ini telah membuat kita bisa melihat ke dalam otak dan memeriksa bagaimana serotonin membantu mengatur impuls emosional kita," ujar Dr Molly Crockett, peneliti dari Cambridge's Behavioural and Clinical Neuroscience Institute, seperti dikutuip dari ScienceDaily, Jumat (16/9/2011).
Dalam studi ini partisipan yang sehat diubah pola makannya. Pada hari-hari tertentu diberikan makanan yang mengandung sedikit triptofan sehingga menghambat pembentukan serotonin, lalu pada hari berikutnya diberikan makanan dengan akdar triptofan yang normal.
Peneliti kemudian men-scan otak relawan dengan functional magnetic resonance imaging (fMRI) untuk mengukur bagaimana daeah di otak bereaksi dan berkomuniaksi satu sama lain ketika ada emosi tertentu.
(ver/ir)











































