Penelitian yang telah diterbitkan dalam edisi terbaru Journal Stroke, menunjukkan bahwa orang yang tinggal di negara miskin dan di negara-negara yang menghabiskan lebih sedikit uang untuk perawatan kesehatan lebih mungkin untuk menderita stroke fatal, dibandingkan dengan negara kaya.
Temuan baru ini juga menunjukkan bahwa lebih banyak upaya pencegahan yang dibutuhkan, terutama di negara-negara berkembang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam penelitian ini, peneliti mempelajari 30 studi dari 22 negara dan mengidentifikasikan hubungan antara stroke dan tiga indikator ekonomi yang banyak digunakan, yaitu produk domestik bruto (PDB), pengeluaran kesehatan per orang dan tingkat pengangguran.
Hasilnya, meskipun tingkat pengangguran ditemukan tidak berpengaruh pada risiko stroke, penelitian ini menemukan PDB lebih rendah dikaitkan dengan risiko 32 persen stroke lebih tinggi, melonjak 43 persen pada kedua kematian 30 hari setelah stroke dan hemorrhagic stroke (pendarahan dalam atau dekat otak), dan kenaikan 47 persen pada stroke pada orang muda.
Sementara itu, peneliti menemukan bahwa pengeluaran yangs sedikit pada biaya perawatan kesehatan dikaitkan dengan risiko stroke 26 persen lebih tinggi, meningkat 45 persen dalam kematian 30 hari setelah stroke, dan melonjak 32 persen pada stroke hemoragik. Tingkat stroke di antara orang muda juga meningkat 36 persen.
"Sangat penting untuk membahas lebih lanjut prioritas kesehatan untuk setiap negara. Ini akan memberikan latar belakang yang diperlukan untuk membantu negara-negara membuat perubahan dalam sumber daya dan uang yang dialokasikan," jelas Dr Gustavo Saposnik, direktur hasil penelitian stroke di St Michael's Hospital, University of Toronto.
(mer/ir)










































