Para ilmuwan menuturkan sindrom premenstruasi atau PMS terjadi karena adanya perubahan hormon di dalam tubuh secara alami. Namun gejala-gejala PMS yang terjadi sekali dalam sebulan ini bisa dikurangi atau diobati.
Perempuan yang memiliki gejala fisik dan emosional akibat PMS tergantung pada sensitivitas tubuhnya terhadap hormon allopregnanolone. Hormon ini dilepaskan dalam tubuh setelah ovulasi (masa subur) dan selama kehamilan, serta terjadi perubahan ketika siklus menstruasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan perempuan yang memiliki gejala PMS parah seperti sensitivitas tinggi sebelum menstruasi, kemungkinan karena memiliki kemampuan yang kurang dalam beradaptasi dengan variasi hormon tersebut.
Studi ini dilakukan oleh Dr Erika Timby dari Umea University di Swedia, studi ini sekaligus merupakan suatu terobosan baru dalam memahami PMS yang terjadi pada sebagian besar perempuan.
"Kami mempelajari beberapa perempuan, studi ini merupakan yang pertama memeriksa efek dari metabolit tertentu pada corpus luteus hormone manusia," ujar Dr Timby, seperti dikutip dari Telegraph, Selasa (27/12/2011).
Dr Timby menuturkan pengetahuan yang besar mengenai mekanisme yang mendasari terjadinya PMS nantinya akan memberikan petunjuk untuk menemukan metode baru dalam perawatan, dan hal ini membuat PMS mudah untuk diobati.
Beberapa gejala PMS yang muncul bisa meliputi berbagai perubahan fisik dan emosional. Keluhan terbesar dari gejala PMS adalah perubahan suasana hati, seperti merasa sangat kesal atau sedih. Sedangkan gejala fisik yang dialami saat PMS, antara lain perut kembung, nyeri payudara dan sakit kepala.











































