Kedelai Tak Melindungi Usus dari Risiko Kanker

Kedelai Tak Melindungi Usus dari Risiko Kanker

- detikHealth
Kamis, 05 Jan 2012 13:33 WIB
Kedelai Tak Melindungi Usus dari Risiko Kanker
(Foto: thinkstock)
Jakarta - Kandungan fitoesterogen dalam biji kedelai disebut-sebut mampu mencegah berbagai jenis kanker. Namun khusus untuk risiko kanker usus, sebuah penelitian di Jepang menunjukkan bahwa kedelai tidak terlalu banyak memberikan perlindungan.

Fitoesterogen atau disebut juga isoflavon merupakan kandungan dalam biji kedelai yang memiliki sifat seperti hormon esterogen. Hormon seks perempuan ini memberikan perlindungan terhadap berbagai jenis kanker selama masih berada di usia subur.

Berkat hormon esterogen, perempuan relatif terlindungi dari berbagai risiko kanker termasuk kanker usus. Namun setelah menopause dan produksi esterogen berkurang, risiko kanker usus pada perempuan menjadi sama dengan laki-laki yang seumur hidup tidak banyak memproduksi esterogen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sama seperti esterogen yang secara alamiah diproduksi oleh perempuan subur, fitoesterogen dalam kedelai diyakini juga memberikan efek perlindungan terhadap kanker usus. Karena itu, makanan berbahan kedelai seperti tahu dan tempe banyak direkomendasikan sebagai superfood pencegah kanker.

Namun penelitian yang dilakukan para ilmuwan National Cancer Center di Jepang menunjukkan, efek perlindungan terhadap kanker usus tidak sebesar yang digembar-gemborkan. Dari 85.000 partisipan yang rajin makan kedelai, 1.250 orang tetap kena kanker usus dalam kurun waktu sekitar 15 tahun, seperti dilansir Healthday, Kamis (5/1/2012).

Kanker usus dan saluran cerna pada umumnya merupakan salah satu jenis kanker yang sangat mematikan. Sepanjang tahun 2011, jenis kanker ini diperkirakan telah menjangkiti 21.500 orang di Amerika Serikat dan menewaskan 10.500 orang di antaranya.

Meski tidak memberikan perlindungan yang berarti terhadap kanker usus, bukan berarti kedelai tidak memiliki manfaat sama sekali. Kedelai merupakan sumber protein nabati yang tidak kalah penting bagi pertumbuhan maupun perbaikan sel-sel tubuh yang mengalami kerusakan.

Penelitian yang dipimpin oleh Azura Hara tersebut dipublikasikan dalam American Journal of Clinical Nutrition baru-baru ini.





(up/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads