Seorang ahli saraf dari Czech, Jaroslav Flegr (63 tahun) mengklaim diri sebagai contoh nyata dari infeksi toksplasma. Akibat terinfeksi parasit yang biasanya ditularkan oleh kucing itu, ia menggalami perubahan perilaku dalam 20 tahun terakhir.
Suatu ketika, tiba-tia ia nekat menyeberang jalan raya meski pada saat itu lalu lintas sedang sangat padat. Ia kehilangan rasa takut, termasuk sama sekali tidak panik ketika dirinya pernah terjebak dalam sebuah baku tembak saat sedang berada di Turki.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Flegr meyakini, banyak orang menjadi sembrono dan tidak mampu memikirkan risiko saat menghadapi bahaya karena sebenarnya sudah terinfeksi toksoplasma. Akibatnya orang-orang tersebut memiliki risiko lebih besar untuk mengalami cedera maupun tewas karena kecelakaan.
Klaim Flegr didasari oleh hasil penelitian di Leeds University yang menunjukkan bahwa toksoplasma bisa meningkatkan produksi dopamin di otak, yakni senyawa yang mampu mempengaruhi perilaku seseorang. Peningkatan ini dialami juga pada pengidap gangguan jiwa seperti schizophrenia dan gangguan bipolar.
Peningkatan senyawa ini juga memicu imflamasi atau peradangan, sehingga beberapa fungsi otak mengalami perubahan. Salah satunya adalah fungsi pengaturan suasana hati (mood), motivasi, kemampuan bergaul dengan lingkungan atau sosialisasi dan juga pola tidur.
Hubungan antara infeksi toksoplasma dengan kerusakan otak sebenarnya sudah diteliti sejak tahun 1920-an, namun terbatas pada ibu hamil dan janin dalam kandungannya. Pada orang dewasa, kerusakan otak akibat toksoplasma lebih sering terabaikan karena biasanya tidak disertai gejala.










































