Obat Kanker Palsu Beredar di Rumah Sakit AS

Obat Kanker Palsu Beredar di Rumah Sakit AS

- detikHealth
Jumat, 17 Feb 2012 14:54 WIB
Obat Kanker Palsu Beredar di Rumah Sakit AS
Avastin (Foto : Wall Street Journal)
Jakarta - Produsen obat Avastin memperingatkan masyarakat setelah pihaknya menemukan obat Avastin palsu yang telah beredar di kalangan dokter, rumah sakit, hingga pasien. Avastin adalah obat kanker yang diproduksi oleh Genentech dan Roche serta paling banyak digunakan.

Menurut perusahaan Genentech di Swiss, pengujian obat Avastin palsu menunjukkan bahwa obat palsu tersebut tidak mengandung bahan aktif yang telah dibuat Roche Holding AG. Sampai saat ini, masih belum diketahui berapa banyak produk palsu yang telah terdistribusikan di AS atau kerugian yang diderita. Juru bicara Genentech mengatakan bahwa perusahaan tidak tahu jika ada pasien yang diberi obat palsu.

Badan pengawas obat dan makanan di AS atau Food and Drug Administration (FDA), sedang menyelidiki kasus ini dan telah mengirimkan surat kepada 19 praktisi medis di AS bahwa badan tersebut membeli obat kanker yang tidak disetujui dan ditengarai sebagai Avastin palsu. Juru bicara FDA mengatakan pihaknya belum menerima laporan tentang efek samping pasien yang disebabkan oleh produk palsu.

Pihak Roche masih menguji obat Avastin palsu untuk melihat bahan apa yang dikandungnya. Namun juru bicara Genentech mengatakan bahwa obat tersebut bukanlah Avastin, tidak aman dan tidak efektif, sehingga tidak boleh digunakan. Genentech mengatakan pihaknya sedang meminta penyedia layanan kesehatan untuk melaporkan setiap dugaan pemalsuan obat ke kantor investigasi kriminal FDA.

Avastin adalah obat untuk terapi kanker yang mengganggu perkembangan pembuluh darah baru yang diperluka tumor untuk tumbuh. Obat mahal ini biasanya digunakan bersama dengan kemoterapi untuk pasien kanker. Obat itu di sempat menjadi kontroversi tahun lalu karena FDA menarik ijinnya untuk digunakan dalam terapi kanker payudara sehingga membuat marah banyak pasien.

Satu botol 400 miligram Avastin yang dipalsukan dibanderol seharga US$ 2.400 atau sekitar Rp 21,6 juta. Tahun lalu, penjualan Avastin di AS menghasilkan lebih dari US$ 2,5 miliar atau sekitar Rp 22,5 triliun. Banyak pasien mendapatkan Avastin suntik di rumah sakit atau kantor dokter setiap dua atau tiga minggu selama setahun.

"Sebagian besar dokter menggunakannya. Ini adalah obat yang biasa digunakan. Kami akan meminta dokter dan pihak rumah sakit untuk memeriksa sumber produk dan memastikan pasokan dengan aman," kata Leonard Saltz dari bagian onkologi kolorektal di Memorial Sloan-Kettering Cancer Center di New York seperti dilansir Wall Street Journal, Jumat (17/2/2012).

Di AS, obat resep kebanyakan didistribusikan oleh pemasok resmi yang membeli dari produsen dan dijamin integritasnya. Apotek juga memberikan tekanan pada distributor agar memastikan kualitas.

Obat palsu tersebut diduga bisa masuk melalui distributor yang tidak sah dan apotek yang mencoba memperoleh keuntungan dengan cepat. Dokter dan pasien mungkin tidak tahu bahwa mereka menggunakan obat palsu jika obat hanya tidak bekerja efektif namun tidak menimbulkan gejala.

Avastin palsu tersebut dikemas dalam kotak dan botol yang terlihat jelas berbeda dari produk asli. Di AS, kotak Avastin asli diberi label dalam bahasa Inggris yang menegaskan bahwa obat dibuat oleh Genentech dan memiliki nomor seri enam digit. Tapi dalam obat palsu, kotak kemasan tertulis dalam bahasa Prancis dan memiliki banyak nomor yang dimulai dengan B86017, B6011, atau B6010.

Roche pertama kali menyadari ada obat palsu ketika otoritas kesehatan yang tidak disebutkan namanya memberitahu perusahaan bahwa ada obat Avastin yang dibuat di Prancis pada bulan Desember lalu. Kemudian FDA diberitahu oleh badan pengawas obat dan produk kesehatan di Inggris mengenai dugaan obat palsu ini.

Kebanyakan orang Amerika tidak mempertanyakan keabsahan obat yang dikonsumsi. Padahal, sebelumnya pernah ada insiden munculnya obat palsu lain di AS, yaitu obat penurun berat badan palsu, Alli, dan obat influenza palsu, Tamiflu. Hal ini menunjukkan risiko pemalsuan obat di AS akan tetap tinggi, apalagi kebanyakan obat yang dijual di AS dibuat di luar negeri.

Selain momok obat palsu, pembuat obat AS juga menghadapi krisis. Perusahaan obat seperti Johnson & Johnson harus menutup pabriknya karena masalah kualitas. Awal bulan ini, Pfizer Inc di Amerika Serikat menarik sekitar satu juta bungkus pil KB karena kemasannya tidak tepat sehingga meningkatkan risiko kehamilan yang tidak direncanakan.



(pah/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads