Terapi diet ini dikembangkan Prof Kang Jingxuan, seorang ahli kanker dari Harvard University. Profesor keturunan China yang tinggal di Amerika Serikat ini pernah masuk nominasi peraih nobel kedokteran tahun 2006, atas prestasinya mengembangkan mamalia yang bisa memproduksi asam lemak omega 3.
Diet yang dijalankan mirip seperti yang disebut 'diet antiinflamasi', yang melibatkan suplemen asam lemak esensial omega-3 dalam jumlah besar. Asam lemak yang banyak terdapat pada minyak ikan ini mengandung berbagai senyawa antiinflamasi atau antikanker.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Kang, kebanyakan makan asam lemak omega 6 dan kurang asam lemak omega 3 merupakan penyebab umum dari berbagai masalah kesehatan. Masalah-masalah itu cukup beragam, mulai dari kanker hingga sakit jantung.
Secara alami, tubuh tidak memproduksi asam lemak omega 3 maupun omega 6. Asam lemak omega 6 ditemukan di hampir semua jenis makanan olahan, sementara asam lemak omega 3 paling banyak ditemukan dalam minyak ikan.
Kedua jenis asam lemak esensial ini dibutuhkan dalam pembentukan hormon. Omega 6 merangsang terjadinya inflamasi atau radang, sebaliknya omega 3 menghambat terbentunya radang yang sering dikaitkan dengan risiko kanker.
"Kemoterapi dan radiasi memang efektif, tetapi sifatnya yang tidak membeda-bedakan sel kanker dengan jaringan di sekitarnya bisa sangat merugikan," kata Kang, seperti dikutip dari Shanghaidaily, Rabu (22/2/2012).
Untuk segala jenis kanker, Kang tidak membeda-bedakan jenis dietnya. Ia berusaha menerapkan prinsip commonality, yakni diet yang sama untuk menghasilkan efektivitas yang sama pada semua jenis kanker.
Pendekatan ini pada dasarnya sama seperti pengobatan tradisional China, yakni menguatkan aliran energi atau qi yang sehat dan mengeluarkan qi yang tidak sehat. Namun akliran energi yang disasar oleh Kang tidak bersifat umum, melainkan dikhususkan pada tingkatan sel.
Meski beberapa pasien mengakui manfaatnya, pendapat ahli kanker yang lain masih berbeda-beda. Dr Lu Shun dari Shanghai Chest Hospital termasuk yang kurang setuju, karena belum ada bukti ilmiah yang cukup kuat untuk memastikan kemanjurannya.
"Saya tahu ada beberapa uji yang berhasil pada hewan, namun belum ada bukti yang kuat sejauh ini menyangkut efektivitasnya pada manusia. Apa yang manjur pada hewan tidak selalu manjur ketika diterapkan pada manusia," kata Dr Lu.
(up/ir)











































