Singapura adalah salah satu negara favorit yang suka dijadikan rujukan pengobatan pasien kanker dari berbagai belahan dunia. Tak hanya mengklaim memiliki dokter dan peralatan yang canggih, negara kecil ini juga menawarkan atraksi pesona wisata.
Maka, tak heran jika pengobatan-pengobatan medis yang ditawarkan dikemas dalam satu paket dengan jasa wisata. Hasilnya cukup efektif. Banyak pasien dari berbagai negara merasa senang berobat ke negara ini.
Hal serupa juga dilakukan China. Banyak pasien dari luar negeri yang berbondong-bondong ke negara terpadat sedunia ini untuk mengobati kanker. China memang salah satu negara yang paling maju dalam mengembangkan teknik mengobati kanker, terutama kanker paru dan kanker liver.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alat ini sangat efektif untuk mendiagnosa perkembangan kanker dan menentukan sejauh apa tingkat keparahannya. Berbeda dengan scan MRI, PET scan bisa menampilkan gambar organ pasien dalam bentuk 3 dimensi. Alat penting demi ketepatan dan keakuratan diagnosis penyakit.
"Jika di Singapura, pasien harus membayar sekitar Rp 15 juta untuk menjalani PET Scan, maka di RS Dharmais hanya sebesar Rp 6-8 juta. Angka ini bisa kami tekan karena kami lebih efisien dalam penggunaan dan pengoperasiannya," kata DR. dr. Dody Ranurhady, SpPD-KHOM, direktur medik dan keperawatan RS Kanker Dharmais dalam acara peresmian Peralatan Baru untuk Mendiagnosis Kanker di RS Kanker Dharmais, Jakarta (14/3/2012).
Agar dapat lebih optimal untuk melayani masyarakat, penggunaan PET scan ini juga bisa ter-cover oleh Jamkesmas, Jamkesda, dan asuransi lainnya.
Di Indonesia, baru 3 rumah sakit yang memiliki alat ini, yaitu RS Cipto Mangunkusumo, MRCCC, dan RS Kanker Dharmais. Sebagai RS kanker milik pemerintah rujukan nasional, maka RS Dharmais merasa berkewajiban untuk meningkatkan mutu pelayanannya.
PET scan bukanlah alat utama yang digunakan untuk mendeteksi kanker, melainkan alat yang digunakan apabila kanker telah memasuki stadium lanjut. Alat ini menggunakan obat radioaktif dalam pengoperasiannya, maka prosedurnya juga harus diawasi secara ketat. Alat ini juga tidak boleh sering digunakan karena radiasi yang diterima dapat melemahkan sistem pertahanan tubuh.
"Untuk mengatasi efek samping radiasi seperti muntah dan mual, bisa diberikan obat-obat tradisional. Obat tradisional memang disebut-sebut bisa menyembuhkan kanker. Tetapi penelitan lebih lanjut diperlukan untuk membuktikannya. Namun kami menggunakan jamu dan obat tradisional dalam pengobatan pasien karena membantu meningkatkan kualitas hidup pasien," kata dr Dody.
(pah/ir)











































