Tapi untuk penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi, obat yang diberikan tidak boleh digunakan sembarangan.
Di seluruh dunia, diperkirakan hampir separuh dari pasien gagal menggunakan obat secara benar. Berdasarkan penelitian dari WHO, ditemukan sekitar 43 persen antibiotika di Indonesia digunakan secara berlebihan. Contohnya untuk pengobatan ISPA ringan, 75-86 persen pasien menerima antibiotika yang sebenarnya tidak diperlukan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dr Rianto pernah menemukan pasiennya yang menderita diabetes dan meresepkan obat untuk mengatasi keluhannya. Obat ini nampaknya cocok sebab pasien tidak datang berkonsultasi lagi. Yang jadi masalah adalah, pasien membeli sendiri obat yang diresepkan dokter dan meminumnya tanpa petunjuk dokter. Akibatnya, beberapa bulan kemudian terjadi gangren pada kakinya sehingga harus diamputasi.
Tidak semua penyakit bisa diatasi dengan obat-obatan tanpa resep dokter. Total penjualan produk farmasi di Indonesia tahun 2011 sebanyak Rp 38,7 triliun. Sebesar 45 persen di antaranya (Rp 17,4 triliun) adalah obat tanpa resep dokter yang dijual bebas. Membeli obat tanpa resep dokter memang lebih menghemat waktu dan biaya. Tapi tidak semua penyakit bisa diobati sendiri.
"Penyakit yang biasanya bisa sembuh dengan sendirinya dan tidak berbahaya boleh diobati sendiri. Tapi untuk penyakit yang cenderung menjadi berat dan tidak dapat sembuh sendiri harus mendapat kontrol dari dokter, meskipun tidak merasa sakit," kata dr Rianto.
Lebih lanjut lagi, dr Rianto menjelaskan penyakit yang bisa diobati sendiri itu antara lain:
1. Panas, batuk dan pilek yang tidak lebih dari 5 hari
2. Diare ringan yang hanya berlangsung beberapa hari
3. Keluhan lambung ringan
4. Pusing biasa
5. Sembelit dan susah tidur
Sedangkan penyakit yang tidak boleh diobati sendiri antara lain;
1. Hipertensi
2. Diare hebat disertai kekurangan cairan
3. Kencing manis
4. Kanker
5. Penyakit ginjal.










































