Melihat kenyataan itu, Dr. Alva Edy Tontowi, star pengajar jurusan Teknik Mesin dan Industri Fakultas Teknik UGM berinisiatif untuk mengembangkan hip prosthesis dengan ukuran tulang orang Indonesia.
"Dari hasil kajian material dan pengalaman dokter bedah tulang di RS Sardjito diketahui bahwa walaupun hip prosthetis impor dibuat dari baja stainless 316L dan sudah direkomendasikan oleh Foods and Drugs Administration (FDA) di Amerika Serikat sebagai material implan, tetapi sifat biokompabilitas dan bioaktivitasnya belum sepenuhnya terjamin," papar pendiri Bioceramics Minifactory UGM tersebut baru-baru ini di Kampus UGM.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain dikembangkan dengan struktur tulang orang Indonesia, produk Gama-Hip Prosthesis relatif lebih murah dibandingkan produk impor. Harga prostethis impor berbahan baja stainless 316L atau AlTi6V4 biasa dijual dengan harga sekitar Rp 8-12 juta per unit sedangkan Gama-Hip prosthesis rencananya akan dipasarkan seharga Rp 5 juta per unitnya.
"Karena mahal, banyak pasien penderita patah tulang atas yang belum bisa mendapatkan pelayanan yang memadai. Oleh sebab itu, dengan adanya produk ini diharapkan bisa menggantikan hip-prosthesis impor dengan harga yang lebih murah sehingga lebih banyak pasien yang dapat dilayani," urainya seperti rilis yang diterima detikHealth, Kamis (12/4/2012).
Pengembangan Gama-Hip Prosthesis ini merupakan bagian dari proyek riset Risnas UGM 2011 dengan melibatkan divisi Ortopedi RSUP Dr. Sardjito dan CV Perkakas Yogyakarta.
Alva pun menambahkan untuk saat ini ia memang belum melakukan uji klinis terhadap pasien secara langsung. "Sebelum dikomersialkan nantinya akan dilakukan uji klinis terlebih dahulu. Untuk patennya sedang dalam proses pengajuan ke Ditjen HKI," ujarnya.











































