Survei: Bagi Konsumen, Rasa Lebih Penting dari Risiko Kesehatan

Survei: Bagi Konsumen, Rasa Lebih Penting dari Risiko Kesehatan

Putro Agus Harnowo - detikHealth
Senin, 28 Mei 2012 14:33 WIB
Survei: Bagi Konsumen, Rasa Lebih Penting dari Risiko Kesehatan
ilustrasi (foto: Thinkstock)
Jakarta - Makanan yang enak belum tentu sehat, dan nyatanya memang demikian. Banyak makanan yang dirasa enak sebenarnya memiliki kandungan lemak dan gula yang tinggi, faktor risiko pemicu penyakit jantung, pembuluh darah, stroke dan diabetes. Sebuah survei menemukan bahwa konsumen ternyata lebih memilih rasa dibanding risiko kesehatan yang akan ditanggung.

Survei yang dilakukan International Food Information Council Foundation di Amerika Serikat ini bertujuan untuk mengetahui kebiasaan sehat masyarakat. Survei ini dilakukan terhadap 1.057 orang berusia 18 hingga 80 tahun dan dilakukan pada bulan April lalu. Hasilnya, sebanyak 23% peserta mengaku memiliki pola makan yang sangat tidak sehat.

87% responden mengaku bahwa rasa makanan adalah pertimbangan utama dalam memilih makanan dan minuman. Sebanyak 73 % responden memilih harga sebagai pertimbangan, manfaat kesehatan sebanyak 61% dan kenyamanan sebesar 53%.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Faktor harga dianggap lebih penting bagi konsumen yang usianya kurang dari 50 tahun. Untungnya 87% responden mengaku sudah mencoba untuk lebih banyak makan buah dan sayuran. Sebanyak tiga perempat responden mengatakan sulit mengetahui pedoman gizi yang dapat dijadikan pegangan.

"Mungkin ini sebabnya beberapa orang, terutama yang mengalami kelebihan berat badan, sulit menemukan informasi pedoman gizi yang baik. Jelas sekali, ada banyak orang yang tidak mengetahui informasi ini," kata Marianne Smith Edge, wakil presiden International Food Information Council Foundation seperti dilansir Los Angeles Times, Senin (28/5/2012).

Di antara seluruh responden yang disurvei, hanya seperempat di antaranya yang mengaku menerapkan pola makan yang sehat atau sangat sehat. Namun 9 dari 10 orang yang disurvei mengatakan bahwa kondisi kesehatannya dalam kondisi baik atau sangat baik.

Menurut Edge, salah satu hambatan dalam penyampaian informasi ini disebabkan tidak semua perusahaan mencantumkan label kandungan nutrisi pada kemasan seperti yang telah dianjurkan pemerintah. Padahal, hampir setengah responden mengatakan bahwa label kandungan nutrisi tersebut penting.

Survei ini juga menemukan bahwa lebih dari separuh responden mengaku mencoba menurunkan berat badan sejak tahun lalu, namun hasilnya tetap sama. Sebanyak 23% penderita obesitas dan 44% orang dengan kelebihan berat badan mengaku tidak berkeinginan menurunkan berat badannya.

Tiga perempat dari seluruh responden mengaku mencoba memperbaiki pola makannya dengan cara makan dalam porsi kecil, memakan gandum utuh dan mengurangi asupan lemak, gula atau garam.

67% responden mengaku mencoba memakan lemak sesedikit mungkin dan 75% mengatakan mengkonsumsi produk rendah lemak sesekali waktu. 51% responden mengaku mencoba membatasi atau menghindari gula.





(pah/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads