"Kampanye utama adalah jangan biarkan genangan air terlantar di masyarakat, sehingga ada kesadaran untuk mengatasinya," ujar dr H Edwin selaku ketua Dinas Kesehatan Kota Medan dalam acara peringatan pelaksanaan ASEAN Dengue Day ke-2 di Amilum convention hall, Medan, Jumat (15/6/2012).
dr Edwin menuturkan selain itu juga terus dilakukan gerakan kebersihan dengan moto "Medan Hari Ini Harus Lebih Bersih dari Kemarin', didapatkan ada penurunan kasus demam berdarah dibanding dengan tahun sebelumnya setelah ada perubahan perilaku tentang kebersihan. Meski masih ditemukan kasus demam berdarah karena memang padat penduduk.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pemberantasannya kalau ada kasus segera dilaporkan dan langsung dilakukan fogging yang fokus. Yang terpenting adalah pencegahan dengan PSN yaitu pemberantasan sarang nyamuk," ujar dr Edwin.
Sementara itu Dr Rita Kusriastuti, MSc Direktur Pengendalian Penyakit bersumber Binatang (P2B2) Ditjen P2PL Kemenkes RI menuturkan umumnya musim demam berdarah mengikuti musim hujan. Secara nasional dimulai pada bulan Oktober, lalu meningkat di Desember dan mencapai puncaknya pada bulan Februari sampai Maret, sesudah April biasanya akan menurun.
"Jadi demam berdarah akan mengikuti musim hujan, dan usia yang meninggal masih banyak pada anak-anak karena anak tidak bisa mengeluh kalau ia nyeri atau sakit kepala, tapi kalau orang dewasa bisa mengeluh," ujar Dr Rita.
Dr Rita juga mengungkapkan ada 3 cara pencegahan demam berdarah yaitu:
1. Pencegahan fisik yaitu dengan melakukan 3M plus yaitu menguras bak penampungan air, menutup rapat tempat penampungan air, mendaur ulang barang bekas dan plus seperti memakai obat anti nyamuk, atau menggunakan tanaman untuk mengusir nyamuk.
2. Pencegahan biologi yaitu dengan memasukkan ikan pemakan jentik nyamuk seperti ikan cupang di dalam bak mandi.
3. Pencegahan kimiawi yaitu dengan menggunakan abate atau obat semprot nyamuk.










































