Gagasan Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi untuk mempermudah akses kondom pada kelompok seks berisiko menuai kontroversi. Kementerian Kesehatan menolak jika kebijakan ini ditafsirkan sebagai kampanye bagi-bagi kondom gratis untuk remaja.
"Menkes telah menegaskan bahwa kampanye penggunaan kondom ini bukan sembarang kampanye," tulis Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Kesehatan, drg Murti Utami, MPH dalam rilis yang diterima detikHealth, Rabu (20/6/2012).
Dikatakan oleh drg Murti, sasaran kampanye ini sudah jelas yakni kelompok yang memiliki perilaku seks berisiko sesuai target Millenium Development Goals (MDGs). Bahkan suami istri sekalipun termasuk dalam sasaran kampanye ini, jika perilaku seksualnya berisiko.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khusus di kalangan remaja, Menkes sudah memiliki solusi tersendiri agar terhindari dari perilaku seks berisiko. Selain dengan pendidikan agama dan kesehatan reproduksi yang komprehensif, Kemenkes juga melakukan upaya pencegahan melalui kampanye ABAT (Aku Bangga Aku Tahu).
Pesan utama yang ingin disampaikan melalui kampanye ABAT adalah mengedepankan upaya pengenalan penyebab HIV-AIDS, proses penularan dan bagaimana mencegahnya. Kampanye yang menargetkan kelompok usia 15-24 tahun ini memiliki jargon yang cukup tegas, yakni No Drugs dan No Free Seks.
Dalam rilis itu, drg Murti menegaskan lagi bahwa Menkes tidak akan mengeluarkan kebijakan terkait dengan pemberian kemudahan akses bagi remaja untuk memperoleh kondom. Kebijakan yang akan dikeluarkan Menkes adalah mengintensifkan pemakaian kondom di kalangan dengan perilaku seks berisiko.
(up/ir)










































