Penelitian yang didanai oleh Alzheimer's Society ini memantau 140 orang yang mengalami gangguan kognitif ringan atau 'pra-demensia' dan melihat bagaimana stres mempengaruhi kondisinya. Para peneliti mengambil sampel darah dan air liur peserta dalam rentang waktu 6 bulan selama 18 bulan untuk mengetahui penanda biologis dari stres.
"Orang yang memiliki gangguan kognitif ringan lebih berisiko mengalami demensia. Beberapa di antaranya ada yang tetap stabil kondisinya dan beberapa juga ada yang makin parah gangguannya. Kehilangan seseorang yang dikasihi atau pengalaman traumatis juga berpotensi," kata peneliti, Prof Clive Holmes dari University of Southampton seperti dilansir BBC, Rabu (27/6/2012).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ilmuwan Skotlandia juga pernah melakukan penelitian pada hewan sebelumnya dan menemukan bahwa pelepasan hormon yang merespon stres dapat mengganggu fungsi otak.
"Kita semua pernah mengalami peristiwa yang memicu stres. Kami mencari cara untuk memahami bagaimana stres dapat menjadi faktor risiko munculnya penyakit Alzheimer," kata Prof Holmes.
Dengan temuan ini, prof Holmes berharap dapat mengembangkan cara-cara baru untuk melawan Alzheimer dan demensia lewat perawatan psikologis ataupun obat. Saat ini, ia tengah mencari beberapa faktor yang dapat meredakan stres, baik fisik, psikologis, maupun stres akibat pengalaman traumatis.
"Kami menyambut baik setiap penelitian yang bisa memberi harapan baru pada penyakit Alzheimer dan demensia. Memahami faktor risiko Alzheimer dapat membantu memecahkan teka-teki yang perlu kita pahami dalam meningkatkan pengobatan yang dapat menghentikan penyakit sebelum berkembang lebih parah," kata Dr Simon Ridley dari Alzheimer Research UK.










































