Pusat Kanker Nasional, Akankah Bisa Terwujud?

Pusat Kanker Nasional, Akankah Bisa Terwujud?

Putro Agus Harnowo - detikHealth
Senin, 09 Jul 2012 15:06 WIB
Pusat Kanker Nasional, Akankah Bisa Terwujud?
(Foto: Thinkstock)
Jakarta - Penyakit kanker telah lama menjadi perhatian masyarakat medis dunia sejak beberapa puluh tahun terakhir. Di Indonesia, penyakit kanker memang telah ada sejak lama, namun baru beberapa tahun terakhir mendapat perhatian serius dari masyarakat dan pemerintah. Untuk memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh tentang penanganan kanker, FKUI mengundang peraih nobel di bidang genetik dasar kanker, dr Harold Varmus, ke Indonesia untuk berbagi pengetahuan.

Tujuan awal kedatangan dr Varmus ke tanah air adalah untuk memberikan pemahaman yang lebih untuk membangun Institut Kanker Nasional. Saat ini, dr Varmus juga menjabat sebagai direktur National Cancer Institute (NCI) di Amerika Serikat. NCI merupakan lembaga yang berfokus pada penelitian dan pelatihan mengenai kanker, serta mengembangkan program yang ditujukan untuk mencegah dan mengobati kanker di seluruh dunia.

Menurut dr Varmus, negara-negara yang ingin memperkuat kemampuannya dalam mengendalikan kanker perlu mengembangkan registri penyakit kanker guna melacak angka kejadian dan kematian dari berbagai jenis kanker. Kemudian diperlukan suatu 'rencana kanker nasional' untuk menentukan sumber daya yang menjadi sasaran pencegahan, pemeriksaan dan pengobatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di Indonesia, institusi yang secara khusus menangani penelitian, pencegahan dan memberikan informasi mengenai kanker belum ada. Padahal jumlah kasus kanker di berbagai rumah sakit di Indonesia sudah makin banyak.

"Karena kita tidak memiliki data-data yang akurat, kita tidak bisa membuat kebijakan secara nasional. Apa yang kita lakukan saat ini hanya berusaha mengobati penyakitnya dan mencegah agar tidak bertambah banyak," kata Dr dr Ratna Sitompul, Sp.M(K), dekan FKUI dalam acara konferensi pers di auditorium FKUI Salemba, Senin (9/7/2012).

Dr Ratna menegaskan, jika Indonesia memiliki road map program penanggulangan kanker, maka pemerintah akan dapat menentukan kanker apa yang paling banyak terjadi di Indonesia dan bagaimana cara pencegahan dan penularannya agar tidak bertambah banyak.

Perlunya dibentuk lembaga khusus yang menangani kanker terutama karena besarnya biaya yang harus dikeluarkan. Untuk pengobatan satu pasien kanker saja dibutuhkan uang hingga mencapai ratusan juta rupiah. Pada pasien jamkesmas, pengobatan terapi kanker ini ditanggung oleh negara. Maka bisa dibayangkan berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan pemerintah jika tidak ada lembaga yang berfokus menangani kanker.

Saat ini, menurt dr Ratna, jumlah kasus kanker yang paling banyak terjadi di Indonesia adalah kanker payudara, serviks, paru-paru dan nasofaring. Namun data ini masih berdasarkan pada perkiraan kasar karena data terakhir berasal dari data Riskesdas 2007.

Upaya pembentukan lembaga yang berfokus menangani kanker ini memang tengah diupayakan. Memang nampaknya sulit terwujud dalam waktu dekat. Namun FKUI tengah berupaya menggalang dukungan dan koordinasi dengan bebagai fakultas kedokteran di Indonesia agar pusat kanker nasional ini bisa segera terwujud.


(pah/ir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads