Para ilmuwan telah menemukan vaksin obesitas yang menggunakan sistem kekebalan tubuh untuk melawan kenaikan berat badan. Namun studi ini masih dalam tahap awal sehingga baru bisa dipasarkan beberapa tahun lagi.
Vaksin ini bekerja dengan mengelabui sistem kekebalan tubuh untuk membuat antibodi terhadap hormon yang disebut somatostatin, yaitu hormon yang diproduksi oleh otak dan sistem pencernaan yang membuat metabolisme melambat dan berat badan meningkat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Studi ini menunjukkan adanya kemungkinan mengobati orang dengan obesitas melalui vaksinasi," ujar peneliti utama Dr Keith Haffer dari perusahaan Braasch Biotech, AS, seperti dikutip dari Dailymail, Selasa (10/7/2012).
Dr Haffer menuturkan studi lebih lanjut memang diperlukan untuk mengetahui bagaimana implikasi jangka panjang dari vaksin ini, tapi pengobatan obesitas dengan vaksinasi bisa memberikan pilihan lain pada pasien obesitas disamping melakukan operasi atau konsumsi obat.
Dalam studi ini para ilmuwan menggunakan hewan percobaan tikus yang diberikan suntikan tunggal dari vaksin ini dan berhasil menurunkan 10 persen dari berat badannya setelah 4 hari.
Terlebih lagi hewan-hewan percobaan ini diberikan makanan yang tinggi lemak sebelum diberikan suntikan vaksin, dan ternyata diketahui tikus ini tetap turun berat badannya meski mengonsumsi makanan yang buruk.










































