Secara spesifik, wanita yang bekerja lebih dari 49 jam seminggu mengalami penambahan berat badan rata-rata sekitar 1,9 persen dari berat badannya selama dua tahun atau sekitar 1,3 kilogram bagi wanita dengan berat badan 69 kilogram. Namun bagi wanita yang kerja paruh waktu penambahan berat badan rata-ratanya 1,5 persen atau sekitar 1 kilogram.
"Temuan ini menunjukkan bahwa tidak bekerja mungkin memberikan sejumlah dampak perlindungan terhadap kenaikan berat badan dan sebaliknya membantu penurunan berat badan. Hal ini bisa saja karena wanita yang tidak bekerja punya lebih banyak waktu untuk memelihara berat badannya," kata peneliti dalam studi yang dipublikasikan di International Journal of Obesity ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan kata lain, sekitar 65 persen partisipan yang jam kerjanya panjang berisiko obesitas lebih tinggi dibandingkan 42 persen partisipan yang jam kerjanya tak begitu panjang dan 53 persen partisipan yang pengangguran.
Studi ini juga menyakan bahwa wanita yang bekerja cenderung mengalami kenaikan berat badan karena tak punya banyak waktu untuk berolahraga, tidur dan menyiapkan makanan sehat di rumah.
Hal ini juga diamini oleh ketua tim peneliti, Nicole Au dari Monash University, Melbourne, Australia yang mengatakan bahwa dampak dari jam kerja yang panjang terlihat jelas diantara partisipan yang mengalami kenaikan berat badan paling banyak.
"Wanita pekerja dihadapkan pada begitu banyak tekanan waktu yang berbeda-beda sehingga membuat mereka tak punya banyak waktu untuk melakukan aktivitas fisik dan menyiapkan makanan sehat," lanjut Nicole seperti dilansir dari telegraph, Kamis (12/7/2012).
"Wanita pekerja memiliki rata-rata perubahan berat badan terbesar (1,6 persen) dan rata-rata penurunan berat badan terkecil. Perubahan rata-ratanya pun meningkat seiring dengan jam kerjanya (dari 1,5 persen untuk pekerja paruh waktu hingga 1,9 persen untuk yang jam kerjanya sangat panjang," pungkasnya.










































