Dalam peringatan tersebut tercatat bahwa obat tersebut memiliki efek samping seksual, termasuk masalah libido, ejakulasi dan orgasme yang hanya bisa diatasi jika pasien berhenti meminum kedua obat tersebut.
Namun sebuah studi baru yang dipublikasikan dalam Journal of Sexual Medicine menemukan bahwa efek samping ini mungkin takkan hanya berhenti setelah obatnya tak lagi diminum, namun bisa bertahan hingga hitungan bulan bahkan tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasien-pasien tersebut dilaporkan mengalami sejumlah masalah seksual diantaranya disfungsi ereksi, libido rendah, sulit mencapai orgasme dan alat kelamin yang menyusut serta terasa nyeri. Beberapa pasien lain juga dilaporkan mengalami masalah neurologis seperti depresi, cemas dan gangguan kemampuan kognitif.
Bahkan 96 persen partisipan mengaku mengalami masalah seksual semacam itu selama lebih dari setahun setelah berhenti menggunakan obat tersebut. Padahal tak ada satupun partisipan yang mengeluhkan masalah gangguan seksual, psikiatri ataupun gangguan kesehatan lainnya sebelum mengonsumsi Propecia.
Namun peneliti mengakui bahwa sampelnya kecil karena hanya mencakup partisipan yang sebagian besar mendapatkan efek samping negatif dari obat-obatan tersebut. Sebagian besar partisipan memang direkrut melalui forum internet bernama Propeciahelp.com untuk mengumpulkan para pria yang mengalami efek samping Propecia dalam kurun waktu yang cukup lama.
Meski begitu peneliti tetap berargumen temuannya mungkin berpotensi memberikan risiko serius bagi pria yang mengonsumsi finasteride. "Temuan ini membuat kami curiga bahwa obat yang bersangkutan bisa memberikan kerusakan yang permanen terhadap sejumlah pria," kata Irwig seperti dilansir dari CNN, Selasa (17/7/2012).
Dari laporan review FDA terhadap obat finasteride ditemukan bahwa ada 421 kasus efek samping yang berkaitan dengan penggunaan Propecia selama kurun waktu 1998-2011. 59 kasus diantaranya pasien dilaporkan mengalami efek samping seksual setelah tiga bulan menghentikan konsumsi obat tersebut. Untuk Proscar, FDA me-review 131 kasus disfungsi ereksi dan 68 kasus penurunan libido selama 1992-2010.
"Meski kemungkinan percobaan klinisnya hanya berkisar 2 persen, namun karena obat-obatan ini seringkali diresepkan oleh dokter, akan lebih banyak lagi pria yang bisa saja mengalami efek sampingnya," lanjut Irwig.











































