Ketika Rokok Selingkuh dengan Wafer Strawberry

Liputan Khusus Suara Korban Rokok (1)

Ketika Rokok Selingkuh dengan Wafer Strawberry

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Senin, 30 Jul 2012 11:35 WIB
Ketika Rokok Selingkuh dengan Wafer Strawberry
Ilustrasi (dok: detikHealth)
Jakarta -

Konon, hidangan paling nikmat sebagai teman merokok adalah kopi. Bagi sebagian orang, kacang goreng dan minuman beralkohol juga masih cocok untuk menggantikannya. Namun di tangan remaja putri, rokok bisa selingkuh dengan wafer strawberry.
 
***
 
Dua orang gadis sedang asyik mengobrol sambil sesekali tertawa cekikikan saat dentuman house music mulai memekakkan telinga. Yang satu rambutnya dikuncir dengan behel biru mengintip dari balik senyum manisnya, sementara yang lain berponi panjang belah tengah dengan mata biru seperti turis dari Eropa meski kulitnya jelas-jelas sawo matang kalau tidak boleh dibilang gelap.
 
Asap putih terhembus pelan dari mulut kedua gadis ini, setelah keduanya menghisap ringan sebatang rokok menthol yang menyala di tangan masing-masing. Ada 3 puntung rokok bekas dengan merek yang sama di depannya, entah milik siapa, juga sebuah korek gas warna ungu, 2 ponsel Blackberry yang terselip di sebuah dompet perempuan, 7 lembar kertas seukuran kartu nama yang tersusun rapi di meja dan hanya sebungkus rokok yang sepertinya dianggap sebagai milik bersama.
 
Sesekali, gadis dengan poni panjang belah tengah menenggak minuman langsung dari botol di depannya, tanpa sedotan atau dituang di gelas. Yang rambutnya dikuncir, terus mengajak ngobrol dan tidak mempedulikan abu rokok yang bertebaran di meja bundar tanpa asbak itu. Kalau obrolannya mulai membosankan, dia mengambil ponsel pintarnya untuk dimainkan.
 
Bukan, ini bukan gambaran suasana di sebuah klub malam melainkan suatu sore sekitar jam 17.00 WIB di emperan gerai convenience store waralaba asal Jepang yang kebetulan bersebelahan dengan lapak penjual CD bajakan di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Kedua gadis ini juga bukan perempuan-perempuan party-goers, cuma anak baru gede yang sedang menjajakan tiket dance performance yang akan digelar pekan depan di sekitar Kuningan, Setiabudi.
 
Botol minuman yang ditenggak Rina (16 tahun), perempuan berponi panjang belah tengah juga bukan bir atau sparkling wine melainkan teh kemasan beraroma mint. Belakangan, Karlina (16 tahun) yang rambutnya dikuncir juga mengeluarkan wafer strawberry. Sejenis makanan ringan yang rasanya terlalu centil untuk disandingkan dengan aroma tembakau rasa mentol.
 
"Baru coba-coba merokok waktu kelas 1 SMA Kak, keterusan sampai sekarang naik kelas 3. Sehari juga nggak sampai sebungkus sih, paling-paling cuma 4 batang atau lebih dikit. Cuma kalau lagi nongkrong sama teman-teman, ya bisa habis sebungkus," kata Karlina, gadis 16 tahun yang bercita-cita menjadi dokter, kepada detikHealth. Calon dokter sudah belajar merokok sejak umur 15 tahun? Hmm..
 
Kedua remaja putri yang sama-sama bersekolah di sebuah SMA di kawasan Menteng Pulo, Jakarta Selatan ini sejak awal sadar betul bahaya rokok. Namun rasa penasaran saat melihat teman-teman sekolah yang katanya hampir semua merokok membuat Rina dan Karlina mulai ikut-ikutan kemudian lama-lama jadi kebiasaan. Memang belum sampai taraf kecanduan, karena kalau tidak ada rokok pun hampir tidak ada pengaruhnya asal di sekitarnya tidak ada anak sebaya yang merokok.
 
"Belum terlalu ini sih Kak, kalau sama rokok belum terlalu ketergantungan. Ya, paling mulutnya aja jadi agak asem kalau nggak ngrokok. Tadinya nggak pernah merasa kaya gitu," kali ini Rina yang menjelaskan seberapa besar pengaruh rokok yang dirasakannya.
 
Gangguan pernapasan seperti batuk-batuk dan sesak napas belum pernah mereka rasakan, meski diakui ketahanan fisiknya agak berkurang semenjak mengenal rokok. Jika dulu waktu duduk di kelas 1 masih kuat lari 2 kali keliling lapangan upacara, sekarang jadi lebih cepat ngos-ngosan. Namun untuk aktivitas fisik lainnya seperti latihan dance, karena kebetulan keduanya adalah dancer, kebiasaan merokok dirasa belum terlalu berpengaruh.
 
Bukan cuma Rina dan Karlina saja yang merokok sejak SMA, kaum perempuan di Indonesia secara keseluruhan makin banyak yang mengenal rokok sejak usia sangat muda. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 menunjukkan, prevalensi perokok di kalangan remaja putri usia 15-19 tahun naik 5 kali lipat dari 0,3 persen di tahun 1995 menjadi 1,6 persen pada 2010.
 
Makin banyaknya remaja putri yang merokok turut menyumbang peningkatan jumlah perempuan yang merokok secara keseluruhan, dari 1,7 persen menurut data Riskesdas tahun 1995 menjadi 4,2 persen pada tahun 2010 atau naik 2,5 kali lipat. Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik juga menunjukkan adanya peningkatan jumlah perempuan yang merokok, dari 1,1 juta pada tahun 1995 menjadi 4,8 juta di tahun 2010 atau naik 4 kali lipat.
 
Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular dari Kementerian Kesehatan, Ekowati Rahajeng menilai pergeseran budaya sebagai salah satu faktor pemicunya. Jika di masa lalu perempuan yang merokok dianggap memalukan, saat ini hal itu mulai dianggap lumrah. Ia juga tidak setuju kalau hal itu dianggap sebagai bagian dari kesetaraan gender.
 
"Kesetaraaan gender itu mbok ya ambil yang positifnya. Ya itulah yang namanya moderenisasi, maunya kesetaraan gender tapi kaprah salahnya. Yang jelas, memang budaya malu budaya kita ini perlu dikembalikan," kata Ekowati saat ditemui di ruang kerjanya.
 
Selain itu, Ekowati juga menuding banyaknya iming-iming rokok melalui iklan dan tontonan di media turut mendorong peningkatan jumlah perokok secara umum. Di sisi lain, sosialisasi dan penyuluhan untuk membatasi rokok belum bisa mengimbangi gencarnya promosi dan iklan rokok. Kondisi ini makin diperburuk dengan lemahnya peraturan, yang memungkinkan anak-anak kecil bisa dengan bebas membeli rokok.
 
Berdasarkan pengalaman Rina dan Karlina yang belum punya Kartu Tanda Penduduk (KTP), beberapa toko di Jakarta memang tidak melayani penjualan rokok pada anak di bawah umur. Namun hal itu tidak pernah menjadi masalah, karena rokok masih bisa dibeli di toko lain atau di warung-warung dekat sekolah. Bahkan kalau kebetulan uang sakunya pas-pasan, warung-warung itu masih menjual rokok ketengan yang dijual perbatang.
 
Sebenarnya dengan uang saku rata-rata hanya Rp 20 ribu perhari, remaja-remaja putri ini agak memaksakan diri untuk sekedar merokok 4-5 batang perhari. Wajar saja kalau para remaja hanya merokok kalau sedang kumpul-kumpul saja dengan teman-temannya, karena untuk membeli rokok sebungkus biasanya mereka harus patungan atau terpaksa ngeteng kalau itu pun tetap masih kurang.
 
Data Riskesdas 2010 memang menunjukkan bahwa mayoritas atau tepatnya 82,7 persen perempuan Indonesia yang merokok menghabiskan rata-rata di bawah 10 batang perhari atau kurang dari sebungkus. Hanya 0,5 persen saja yang menghabiskan lebih dari 31 batang perhari, 1,9 persen antara 21-30 batang perhari dan 24,1 persen antara 11-20 batang perhari.
 
Ikut-ikutan merokok demi menyamakan identitas

Menurut pengakuan Rina dan Karlina, dari sekitar 30 siswa di kelasnya hanya ada 5 siswa yang tidak merokok. Lima-limanya perempuan dan kebetulan menduduki ranking 1 sampai 5. Banyaknya siswa yang merokok dalam satu kelas menunjukkan bahwa lingkungan sangat berpengaruh terhadap kecenderungan merokok. Satu anak merokok, yang lain akan penasaran lalu ikut-ikutan.

Bukti lain bahwa lingkungan mempengaruhi kecenderungan untuk merokok khususnya di kalangan perempuan bisa dilihat dari fenomena '3B' yang muncul sekitar tahun 2010-2011. Di masa itu, rokok Black Menthol, bersama sama dengan Behel gigi dan ponsel Blackberry menjadi identitas pemersatu di kalangan perempuan urban usia 19-23 tahun yang ingin kelihatan eksklusif. Ada kebanggaan tersendiri menjadi bagian dari komunitas 3B (dibaca: tri-bi), singkatan dari Black Menthol, Behel dan Blackberry.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun perkembangan zaman tidak bisa dibendung, Blackberry mulai ditinggalkan karena sudah tergeser pamornya oleh kehadiran iPhone. Begitu juga rokok Black Menthol, begitu mudahnya ditinggalkan oleh para perempuan urban yang banyak beralih ke produk-produk rokok terbaru yang lebih trendy sesuai tuntutan pergaulan. Varian menthol umumnya tetap jadi idola, meski tidak harus yang bungkusnya hitam.

"Memang tidak seperti laki-laki yang kalau sudah kecanduan canderung fanatik pada satu produk rokok. Perempuan bisa dibilang agak mengikuti tren juga kalau soal rokok," kata Andika Priyono dari Komnas Anak yang mengurusi isu pengendalian tembakau dan pernah berada di lingkungan pergaulan yang sama dengan komunitas 3B.

Belakangan komunitas ini sudah tidak eksklusif lagi, malah cenderung alay karena banyak diplesetkan dengan berbagai macam B yang lain hanya untuk menjaga agar singkatannya tidak berubah. Blackberry jadi Boil (bahasa gaul yang artinya mobil), Black Menthol jadi Belah Tengah (rambut) atau Boobs Gedhe. Behel gigi, asal berkualitas dan tidak norak sejauh ini masih efektif memberikan kesan tajir dan ekslusif.

Sembunyi-sembunyi
 
Meski awalnya hanya sebagai prasyarat agar diterima di sebuah lingkungan pergaulan, kebiasaan merokok pada remaja lambat laun akan terbawa juga dalam kehidupan pribadi. Awalnya hanya merokok kalau sedang kumpul sama teman, lalu mulai iseng merokok sendiri meski masih sembunyi-sembunyi di warung dan akhirnya sampai juga ke rumah.

Karena sebenarnya dilarang guru dan orangtua, Rina dan Karlina juga belum berani terang-terangan merokok di rumah. Hanya di tempat-tempat nongkrongnya anak muda seperti di gerai convenience store atau sesekali di warung dekat sekolah. Sekali waktu saja Rina curi-curi merokok di kamarnya, itupun kalau sedang menghadapi masalah khususnya habis bertengkar dengan pacar atau ngambek karena minta sesuatu tetapi tidak dikabulkan oleh ibunya.
 
Pernah suatu ketika, orangtua Karlina memergoki anak perempuannya itu menyimpan rokok. Memang tidak dimarahi, tetapi rokoknya diambil lalu disindir-sindir. Bagi Karlina, sikap itu sudah cukup menunjukkan bahwa orangtuanya tidak suka kalau dirinya merokok, meski menurut pengakuannya ayah dan kakak laki-lakinya juga sering merokok di rumah.
 
"Nggak dimarahi juga sih, cuma diledek dan disindir-sindir. 'Ciyeh yang sekarang sudah merokok,' begitu doang sih paling," kata Karlina menirukan kata-kata ibunya waktu menemukan ada rokok di kamarnya.
 
Begitu juga di sekolah, kedua remaja putri ini harus kucing-kucingan dengan gurunya kalau mau merokok. Dikisahkan oleh Rina, salah seorang teman laki-lakinya pernah kepergok sedang menghisap rokok di warung dekat Pemakaman Menteng Pulo kemudian diskors selama beberapa hari setelah sebelumnya dijemur di lapangan sambil disuruh menghabiskan sisa rokoknya sendirian.
 
Penelusuran detikHealth menunjukkan bahwa sekolah tempat kedua remaja ini belajar memang cukup ketat mengatur larangan merokok. Bukan cuma murid saja, guru dan karyawan tidak diizinkan merokok di lingkungan sekolah yang berada persis di belakang Pemakaman Menteng Pulo. Kalau ada yang mau merokok, biasanya akan pergi ke warung-warung makan yang berada tidak jauh dari lokasi sekolah.
 
"Di sini aturannya lumayan ketat Mas. Jangankan merokok, murid terlambat saja kadang tidak boleh masuk. Gerbang langsung ditutup. Kalau nggak, dihukum dulu baru boleh masuk," kata Tonny, petugas keamanan sekolah yang saat ditemui detikHealth sedang sibuk merapikan motor di tempat parkir sambil membantu mengarahkan orangtua calon siswa yang hendak mengurus pendaftaran anak-anaknya.
 
Kawasan Tebet yang merupakan tempat nongkrong dan bergaulnya anak baru gede sepertinya menjadi tempat yang sangat nyaman bagi Rina dan Karlina, karena di situ keduanya bisa menikmati rokok menthol tanpa harus ketahuan guru dan orangtua.

Sambil menikmati hidangan teh kemasan beraroma mint dan juga wafer strawberry, kedua remaja ini melanjutkan lagi obrolan tentang rokok. Bagaimana reaksinya saat mendengar cerita tentang orang-orang yang kecanduan rokok? Ikuti terus kisah selanjutnya.

-bersambung ke bagian 2-

(up/ir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads