Indonesia sempat mencatat puncak keberhasilan program pengendalian penduduk melalui Keluarga Berencana (KB) pada tahun 1994-1995. Namun setelah reformasi program KB berantakan, bahkan di tahun 2010 terjadi kelebihan 3 juta penduduk dari proyeksi semula.
Macetnya program KB membuat Indonesia sempat terancam mengalami ledakan jumlah penduduk.
Padahal program KB yang sebelumnya pernah digalakkan di Indonesia pada tahun 1990-an telah mencapai puncak keberhasilannya di tahun 1994-1995. Sayangnya, program ini kemudian macet dan baru direvitalisasi pada tahun 2007.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun klaim keberhasilan tersebut tentu harus didasarkan pada data faktual dan menyeluruh secara Nasional.
BKKBN kini tengah menunggu hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 yang tengah berlangsung. Survei ini akan membuktikan berhasil tidaknya pencapaian program KB.
"Hasil SDKI terakhir tahun 2007 menunjukkan tingkat kelahiran di Indonesia stagnan sejak tahun 2002, yaitu sekitar 2,6. Dengan berbagai upaya yang kami lakukan, semoga bisa tercapai penurunan menjadi 2,3 pada hasil SDKI 2012 nanti," kata Dr dr Sugiri Syarief, MPA, Kepala BKKBN dalam sambutannya saat membuka Pertemuan Telaah Pembangunan KKB Tingkat Nasional 2012 di Auditorium BKKBN, Selasa (31/7/2012).
Gambaran hasil SDKI 2002 dan 2007 menunjukkan lemahnya program KB pada periode tersebut. Akibatnya, hasil sensus penduduk tahun 2010 mengumumkan jumlah penduduk Indonesia sekitar 237,6 juta jiwa atau 3 juta lebih tinggi dari angka proyeksi penduduk. Laju pertumbuhan penduduk dari tahun 2000 ke tahun 2010 juga meningkat dari 1,45% menjadi 1,49%.
Dengan adanya revitalisasi program KB, Indonesia diharapkan dapat terhindar dari ancaman ledakan penduduk. Hasil SDKI 2012 rencananya akan dapat dilihat hasilnya pada bulan Oktober nanti.
"Kerja keras kita selama 5 tahun terakhir dampaknya akan dapat diukur dari hasil SDKI 2012 yang hasilnya dapat diketahui pada akhir tahun ini," kata Sugiri.
Menurut Sugiri, dari hasil pengamatan di lapangan, target yang diharapkan nampaknya akan tercapai. Namun untuk memastikannya perlu dilakukan survei secara nasional terlebih dahulu.
"Dalam pertemuan International Summit of Family Planning, Indonesia sudah dianggap sebagai negara yang berhasil dalam bidang pengendalian penduduk. Bahkan Indonesia diminta membantu mengajari negara-negara lain yang belum berhasil program kependudukannya," kata Sugiri.
Pertemuan internasional tersebut juga menyusun 2 skema pembelajaran. Pertama, negara-negara yang kurang berhasil program kependudukannya bisa mengirimkan tenaga ahlinya ke Indonesia.
Atau yang kedua, tenaga ahli dari Indonesia yang dikirim ke negara lain untuk transfer ilmu. Seluruh operasional akan ditanggung oleh lembaga donor, salah satunya adalah Gates Foundation.
Pengakuan Internasional ini cukup membanggakan mengingat Indonesia sempat terancam mengalami ledakan jumlah penduduk.
(pah/ir)











































