Rabu, 01 Agu 2012 16:04 WIB

Mana yang Lebih Dahsyat, Puber Pertama atau Puber Kedua?

- detikHealth
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Umumnya seseorang akan mengalami puber saat ia beranjak dari fase anak ke remaja. Tapi di masyarakat juga dikenal istilah puber kedua saat usianya sudah setengah baya. Lalu mana yang lebih dahsyat, puber pertama atau kedua?

"Puber kedua hanya istilah yang ada di masyarakat saja, tidak ada dalam istilah dunia psikologi dan bukan termasuk tonggak perkembangan. Sedangkan kalau puber pertama merupakan perubahan dari fase anak ke remaja," ujar psikolog Anna Surti Ariani, Psi, MSi saat dihubungi detikHealth, Rabu (1/8/2012).

Psikolog yang akrab disapa Nina ini menuturkan ketika seseorang menjelang atau memasuki usia 40-an tahun, maka ia memasuki fase dewasa madya yang ditandai dengan adanya perilaku-perilaku tertentu.

Misalnya seseorang merasa sudah cukup mapan, sudah cukup berkontribusi dalam dunia yang ia geluti, sudah cukup punya karir yang hebat. Kondisi ini membuatnya tidak lagi menemui hal-hal baru sehingga menjadi monoton dan butuh tantangan-tantangan baru.

"Tantangan baru yang dibutuhkannya ini biasanya tergantung pada apa yang membuatnya merasa kurang di masa lampau. Misalnya ia akan menginvestasikan pada spiritual, memuaskan hobinya yang belum terpenuhi, atau kalau cenderung kurang puas dalam hubungan dengan pasangan maka ia akan mencari orang baru yang belum pernah ditemuinya," ungkapnya.

Nina menuturkan di masa madya (puber kedua) ini ada juga yang tantangannya karena ingin tahu apakah ia menarik di mata orang lain atau tidak.

Alasan ini jadi salah satu sebab orang selingkuh, tapi ada pula faktor lain misalnya ada yang menggoda, atau ia berpikir pernikahan bukan hal yang penting, tidak puas dengan penikahannya. Dalam hal ini lingkungan lebih berpengaruh.

"Agak kurang tepat kalau dibilang puber, karena kalau pada remaja ia memang tertarik pada lawan jenis. Tapi kalau pada orang dewasa madya belum tentu arahnya ke lawan jenis, bisa ke perilaku atau hal yang lain," ujar psikolog dari Klinik terpadu UI ini.

Nina menjelaskan dalam psikologi perkembangan, setiap tahapan usia memiliki perkembangan sendiri dan ada tugas-tugas perkembangan yang harus dilakukan.

Berikut ini perkembangan pada tahapan usia yaitu:

1. Pada usia remaja lebih ke arah pencarian jati diri

2. Dewasa muda usia 18 tahun sampai 35-40 tahun lebih ke menjalin keintiman dengan orang lain misalnya menikah atau terjun ke organisasi yang dia cintai.

3. Dewasa madya usia 35-40 tahun sampai 60 tahun cenderung menjadi orang yang dituakan tapi masih dianggap junior karena ia memiliki generasi bawah tapi juga masih ada yang dituakan.

4. Dewasa tua usia 60 tahun ke atas ke arah integritas dia sebagai manusia.

Istilah puber kedua lebih digunakan oleh masyarakat untuk seseorang yang tertarik dengan lawan jenisnya saat sudah berusia setengah baya, dan seringkali dihubungkan dengan kondisi saat puber pertama yang mana tertarik dengan lawan jenis.

Padahal kondisi yang ada adalah tidak ada puber kedua, yang ada seseorang masuk ke fase dewasa madya yang mana disitu ia mengalami beberapa perubahan perilaku tergantung tantangan yang ingin ia hadapi dan pengaruh lingkungan.

Mana yang lebih dahsyat puber pertama atau kedua?

1. Puber pertama terjadi lebih alami dan dialami anak yang mulai masuk remaja.
Puber pertama tidak memiliki efek buruk karena ini adalah hal normal yang dialami semua manusia

2. Puber kedua, lebih bicara pada tantangan yang dipengaruhi oleh lingkungan dan masa lampau demi mencari kepuasan yang belum tercapai.

Asalkan terkontrol dengan baik puber kedua tidak memiliki efek buruk namun jika kebablasan seperti dikutip dari Futurescopes akan berimbas pada perilaku bosan dengan pekerjaan, berpikir untuk selingkuh, boros dalam membelanjakan uang, kehidupan seks berubah atau tampak depresi.
 
(ver/ir)