Terobosan Baru Malaria dari Australia

Terobosan Baru Malaria dari Australia

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Senin, 06 Agu 2012 14:30 WIB
Terobosan Baru Malaria dari Australia
(Foto: Thinkstock)
Jakarta - Selama ini obat yang dikenal untuk mencegah malaria hanyalah pil kina (quinine sulphate). Obat ini bisa dengan mudah didapatkan di apotek atau toko obat karena berlabel OTC. Namun daripada sekedar mencegah, sejumlah ilmuwan di Australia mengaku telah menemukan terobosan baru untuk melawan penyakit ini.

Peneliti dari Burnet Institute, Melbourne menganalisis sejumlah antibodi yang ada pada anak-anak dan orang dewasa di Kenya yang telah menjadi kebal atau imun terhadap parasit bernama Plasmodium penyebab malaria yang dibawa oleh nyamuk itu.

James Beeson, kepala Centre for Immunology, Burnet Institute dan peneliti senior studi ini mengatakan bahwa timnya telah menemukan protein utama yang ada dalam parasit malaria yang kemudian disebut PfEMP1.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Teka-tekinya adalah apakah kunci utama yang diperlukan sistem kekebalan untuk melawan malaria? Kami pun telah menemukan bahwa protein parasit malaria ini bisa menjadi target kunci serangan sistem kekebalan," ungkap Beeson.

Peneliti menemukan bahwa sejumlah penduduk Kenya telah mengembangkan sebuah kekebalan atau imunitas terhadap protein yang ada dalam parasit malaria itu di dalam tubuhnya.

Untuk mendapatkan kesimpulan ini, peneliti mempelajari kondisi anak-anak Kenya berusia 1-10 tahun dan orang dewasa serta menggali informasi tentang seberapa banyak mereka terserang malaria. Anehnya, semakin sering mereka menderita penyakit ini maka semakin banyak antibodi yang mereka miliki.

"Infeksi yang berulang-ulang dari waktu ke waktu justru diperlukan untuk menghasilkan respons antibodi terhadap protein tersebut," kata peneliti seperti dilansir dari cbc, Senin (6/8/2012).

Beeson pun menambahkan bahwa studi baru akan dilakukan untuk mengembangkan vaksin yang mampu merangsang respons kekebalan terhadap protein malaria tersebut.

Studi yang melibatkan peneliti dari University of Melbourne dan Kenya Medical Research Institute ini telah dipublikasikan dalam Journal of Clinical Investigation.



(ir/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads