8 Doping Atlet Olimpiade yang Tak Lazim

8 Doping Atlet Olimpiade yang Tak Lazim

- detikHealth
Selasa, 07 Agu 2012 16:00 WIB
8 Doping Atlet Olimpiade yang Tak Lazim
Ilustrasi (foto: Thinkstock)
Jakarta -

1. Testis Hewan Mentah

Testis Hewan Mentah (Foto: Medical Daily)
Cara ini bermula dari tradisi Yunani kuno. Seperti halnya steroid di abad modern, atlet olimpiade zaman dulu mengunyah testis mentah-mentah untuk mendapatkan tambahan testosteron agar tenaganya terdongkrak. Testosteron adalah hormon steroid dan sering digunakan untuk meningkatkan pementukan otot serta meningkatkan kekuatan dan daya tahan.

2. Brandy Shot

Brandy Shot (Foto: Medical Daily)
Atlet bernama Thomas Hicks menjadi terkenal setelah memenangkan kompetisi maraton dalam Olimpiade 1904. Konon ia mendapat tambahan tenaga berkat minuman Brandy Shot yang diberikan sang pelatih secara teratur selama perlombaan. Brandy shot mengandung alkohol yang dianggap bernutrisi.

Banyak penelitian yang menyimpulkan bahwa alkohol tidak memiliki efek terhadap kekuatan dan daya tahan otot. Secara psikologis, alkohol bermanfaat karena meningkatkan kepercayaan diri, menurunkan kepekaan terhadap rasa sakit, mengurangi kecemasan dan tremor tangan.

3. Ganja

Ganja (Foto: Medical Daily)
Penelitian menunjukkan bahwa ganja atau produk turunannya secara tidak langsung dapat meningkatkan performa dan mengurangi kecemasan. Sebuah penelitian terhadap atlet Australia menunjukkan bahwa hampir 60 persen atlet percaya ganja dapat meningkatkan performanya, namun mereka tidak dapat menjelaskan bagaimana efek negatifnya. Efek positif dari ganja menurut para atlet adalah meningkatkan relaksasi dan kepercayaan diri.

4. Obat Pereda Hidung Tersumbat

Obat Pereda Hidung Tersumbat (Foto: Thinkstock)
Obat mengatasi hidung tersumbat mengandung pseudoefedrin. Komite Olimpiade Internasional awalnya melarang penggunaan pseudoefedrin, namun baru-baru ini diurungkan karena tidak terbukti dapat meningkatkan kemampuan atlet.

Penelitian sebelumnya pernah menemukan bahwa atlet yang diberi kapsul pseudoefedrin dalam waktu 90 menit sebelum uji coba mampu berlari rata-rata 5,8 detik lebih cepat dari pelari yang meminum plasebo.

5. Kafein

Kafein (Foto: Medical Daily)
Kafein adalah stimulan yang pernah dilarang di Olimpiade. Tapi pada olimpiade 2012 kali ini, World Anti-Doping Agency tak lagi melakukan tes terhadap atlet untuk mengetahui kadar kafein dalam darahnya.

Dalam sejarahnya, kafein telah membantu Bakhaavaa Buidaa dari Mongolia meraih medali perak dalam cabang olahraga judo di Olimpiade Munich. Kafein juga membuat pemain anggar asal Australia, Alex Watson, dilarang mengikuti Olimpiade 1988 di Seoul.

6. Etanol

Etanol (foto: Thinkstock)
Etanol dalam bir bisa membuahkan emas pada beberapa kompetisi Olimpiade. Konsumsi alkohol saat ini telah dilarang dalam beberapa cabang olahraga olimpiade. Alkohol bertindak sebagai depresan dan membantu menenangkan saraf. Hans-Gunnar Liljenwall asal Swedia adalah salah satu atlet yang dilarang berkompetisi dalam Olimpiade 1968 di Mexico City karena minum bir sebelum berlaga dalam olahraga menembak.

7. Pestisida

Pestisida (Foto: Medical Daily)
Racun strychnine yang terkandung dalam pestisida digunakan sebagai doping. Meskipun dapat berkibat fatal, strychnine dalam dosis sangat rendah sering digunakan sebagai stimulan. Pada Olimpiade 1904 di St. Louis, AS, atlet maraton Thomas Hicks asal AS meminum strychnine sehingga berhasil meraih medali emas. Namun dalam Olimpiade 1992 di Barcelona, atlet bola voli asal Cina, Wu Dan dilarang berkompetisi karena hasil pemeriksaan positif menunjukan menggunakan strychnine.

8. Cabe

Cabe (Foto: Thinkstock)
Doping ternyata tak hanya milik atlet berkaki dua saja. Capsaicin, zat dalam cabe yang memunculkan sensasi pedas, telah dilarang penggunaannya dalam olahraga berkuda. Pada Olimpiade Beijing 2008, sebanyak 4 orang atlet bekuda dilarang ikut kompetisi setelah kuda yang ditunggangi ditemukan memiliki peningkatan kadar capsaicin. Zat ini merupakan stimulan ringan dan dapat menghilangkan rasa sakit.
Halaman 2 dari 9
Cara ini bermula dari tradisi Yunani kuno. Seperti halnya steroid di abad modern, atlet olimpiade zaman dulu mengunyah testis mentah-mentah untuk mendapatkan tambahan testosteron agar tenaganya terdongkrak. Testosteron adalah hormon steroid dan sering digunakan untuk meningkatkan pementukan otot serta meningkatkan kekuatan dan daya tahan.

Atlet bernama Thomas Hicks menjadi terkenal setelah memenangkan kompetisi maraton dalam Olimpiade 1904. Konon ia mendapat tambahan tenaga berkat minuman Brandy Shot yang diberikan sang pelatih secara teratur selama perlombaan. Brandy shot mengandung alkohol yang dianggap bernutrisi.

Banyak penelitian yang menyimpulkan bahwa alkohol tidak memiliki efek terhadap kekuatan dan daya tahan otot. Secara psikologis, alkohol bermanfaat karena meningkatkan kepercayaan diri, menurunkan kepekaan terhadap rasa sakit, mengurangi kecemasan dan tremor tangan.

Penelitian menunjukkan bahwa ganja atau produk turunannya secara tidak langsung dapat meningkatkan performa dan mengurangi kecemasan. Sebuah penelitian terhadap atlet Australia menunjukkan bahwa hampir 60 persen atlet percaya ganja dapat meningkatkan performanya, namun mereka tidak dapat menjelaskan bagaimana efek negatifnya. Efek positif dari ganja menurut para atlet adalah meningkatkan relaksasi dan kepercayaan diri.

Obat mengatasi hidung tersumbat mengandung pseudoefedrin. Komite Olimpiade Internasional awalnya melarang penggunaan pseudoefedrin, namun baru-baru ini diurungkan karena tidak terbukti dapat meningkatkan kemampuan atlet.

Penelitian sebelumnya pernah menemukan bahwa atlet yang diberi kapsul pseudoefedrin dalam waktu 90 menit sebelum uji coba mampu berlari rata-rata 5,8 detik lebih cepat dari pelari yang meminum plasebo.

Kafein adalah stimulan yang pernah dilarang di Olimpiade. Tapi pada olimpiade 2012 kali ini, World Anti-Doping Agency tak lagi melakukan tes terhadap atlet untuk mengetahui kadar kafein dalam darahnya.

Dalam sejarahnya, kafein telah membantu Bakhaavaa Buidaa dari Mongolia meraih medali perak dalam cabang olahraga judo di Olimpiade Munich. Kafein juga membuat pemain anggar asal Australia, Alex Watson, dilarang mengikuti Olimpiade 1988 di Seoul.

Etanol dalam bir bisa membuahkan emas pada beberapa kompetisi Olimpiade. Konsumsi alkohol saat ini telah dilarang dalam beberapa cabang olahraga olimpiade. Alkohol bertindak sebagai depresan dan membantu menenangkan saraf. Hans-Gunnar Liljenwall asal Swedia adalah salah satu atlet yang dilarang berkompetisi dalam Olimpiade 1968 di Mexico City karena minum bir sebelum berlaga dalam olahraga menembak.

Racun strychnine yang terkandung dalam pestisida digunakan sebagai doping. Meskipun dapat berkibat fatal, strychnine dalam dosis sangat rendah sering digunakan sebagai stimulan. Pada Olimpiade 1904 di St. Louis, AS, atlet maraton Thomas Hicks asal AS meminum strychnine sehingga berhasil meraih medali emas. Namun dalam Olimpiade 1992 di Barcelona, atlet bola voli asal Cina, Wu Dan dilarang berkompetisi karena hasil pemeriksaan positif menunjukan menggunakan strychnine.

Doping ternyata tak hanya milik atlet berkaki dua saja. Capsaicin, zat dalam cabe yang memunculkan sensasi pedas, telah dilarang penggunaannya dalam olahraga berkuda. Pada Olimpiade Beijing 2008, sebanyak 4 orang atlet bekuda dilarang ikut kompetisi setelah kuda yang ditunggangi ditemukan memiliki peningkatan kadar capsaicin. Zat ini merupakan stimulan ringan dan dapat menghilangkan rasa sakit.

(pah/ir)

Berita Terkait