Hewan Juga Bisa Kena Kanker, Tapi Kenapa Manusia Paling Banyak?

Hewan Juga Bisa Kena Kanker, Tapi Kenapa Manusia Paling Banyak?

Putro Agus Harnowo - detikHealth
Senin, 27 Agu 2012 10:30 WIB
Hewan Juga Bisa Kena Kanker, Tapi Kenapa Manusia Paling Banyak?
ilustrasi (foto: Thinkstock)
Jakarta -

Kanker sebenarnya bukan hanya penyakit manusia saja. Hewan seperti monyet, kucing bahkan ikan juga bisa kena kanker. Namun pada manusia, jenis kanker dan kemungkinan terjangkitnya memang lebih besar dibandingkan hewan. Penyebabnya adalah mutasi DNA.

Penelitian telah menemukan kanker dapat menyerang hewan liar. Misalnya penyakit tumor wajah pada Tasmanian Devil, fibropapillomatosis pada penyu dan karsinoma genital pada singa laut. Penyebab munculnya kanker ini sedikit banyak juga disebabkan oleh aktivitas manusia. Namun, prevalensi kanker pada manusia diperkirakan lebih tinggi dibandingkan hewan.

Sebuah penelitian baru menunjukkan mengapa simpanse yang notabene adalah sepupu terdekat manusia tidak memiliki kanker sebanyak manusia. Simpanse memiliki kemiripan DNA dengan manusia sekitar 96 persen dan perbedaan 4 persen tersebut sudah bertanggung jawab atas perbedaan tingkat kanker antara simpanse dan manusia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peneliti menganalisis sampel otak manusia dan simpanse kemudian menemukan bahwa modifikasi tertentu dalam struktur DNA meningkatkan risiko kanker pada manusia. Modifikasi DNA yang disebut metilasi ini tidak mengubah struktur genetik dari DNA, tetapi ekspresinya saja.

"Penelitian kami menunjukkan bahwa penyakit tertentu pada manusia mungkin memiliki asal-usul epigenetik evolusi. Temuan ini dalam jangka panjang dapat membantu mengembangkan terapi target yang lebih baik atau cara untuk mengatasi beberapa penyakit manusia," kata Soojin Yi, peneliti dari Sekolah Biologi Georgia Tech seperti dilansir Medical Daily, Senin (27/8/2012).

Dalam laporan yang dimuat American Journal of Human Genetics, Yi dan tim mengumpulkan sampel dari bagian korteks pre-frontal otak manusia dan simpanse. Mereka kemudian membuat peta perubahan gen otak. Hasilnya, ternyata perubahan DNA pada otak manusia lebih kecil dibandingkan pada simpanse.

Namun peneliti juga menemukan bahwa sebagian besar gen yang mengalami perubahan pada tingkat rendah ini merupakan pendorong ikatan protein dan metabolisme sel. Para peneliti menjelaskan inilah yang membuat manusia sangat rentan terhadap penyakit.

"Gen-gen ini amat berhubungan dengan penyakit, bisa berkaitan dengan autisme, kelainan selubung saraf serta ketergantungan alkohol atau bahan kimia lainnya. Ini menunjukkan bahwa perbedaan perubahan gen antar spesies mungkin memiliki dampak yang signifikan dan berkaitan dengan kerentanan manusia terhadap penyakit tertentu, termasuk kanker," pungkas Yi.

(ir/ir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads