"Faktanya lebih banyak orang yang serangan jantung tapi tidak terdiagnosis dibanding dengan yang didiagnosis, hal ini menunjukkan adanya masalah besar," ujar penulis studi Dr Andrew Arai dari National Blood, Heart and Lung Institute, seperti dikutip dari ABCNews, Rabu (5/9/2012).
Dr Arai menuturkan serangan jantung yang tidak terdiagnosis ini hampir mematikan sama seperti dengan serangan jantung yang bergejala. Untuk itu para dokter harus lebih teliti lagi dalam melihat hal ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut Dr Arai mengungkapkan sekitar setengah dari pasien yang memiliki serangan jantung tidak terdiagnosis kerap kali dihubungkan dengan penyakit flu atau gangguan pencernaan.
Sementara itu Dr Martha Grogan, ahli jantung dari Mayo Clinic di Rochester, Minnesota mengatakan sekitar 28 persen dari peserta studi memiliki diabetes yang mana bisa menyebabkan kerusakan saraf sehingga menghambat tanda-tanda peringatan dari serangan jantung.
"Penderita diabetes sering kali memiliki gejala yang tidak khas atau justru tidak ada sama sekali. Dan kadang gejala serangan jantung sering kabur dan muncul secara perlahan-lahan," ujar Dr Grogan.
Dalam studi ini peneliti melibatkan 936 laki-laki dan perempuan Islandia dengan menggunakan pencitraan MRI. Ditemukan 17 persen partisipan memiliki tanda-tanda seranan jantung yang tidak terdiagnosis dan kurang dari 10 persen partisipan yang mengalami serangan jantung dengan gejala dikenali.
(ver/ir)










































