Pengolahan Limbah ala Kampung Banjar Ambengan

Pengolahan Limbah ala Kampung Banjar Ambengan

Putro Agus Harnowo - detikHealth
Jumat, 14 Sep 2012 08:25 WIB
Pengolahan Limbah ala Kampung Banjar Ambengan
(Foto: detikHealth)
Bali - Coba dihitung berapa banyak limbah atau sampah yang dihasilkan dihasilkan setiap hari. Limbah rumah tangga seperti sisa makanan, sayur dan makanan basi memang berbahaya jika dikonsumsi, namun bisa jadi memiliki nilai lebih jika diolah dengan baik.

Salah satu contohnya adalah yang dilakukan warga di kampung Banjar Ambengan, kelurahan Pesanggaran, kecamatan Denpasar Selatan, Bali. Semenjak bulan Februari 2012 lalu warga telah berupaya melakukan pengolahan limbah rumah tangga agar dapat digunakan untuk keperluan lain.

Menggunakan alat yang disebut komposer, warga menimbun makanan sisa, makanan basi dan limbah organik lainnya untuk diubah menjadi kompos. Dalam pelaksanaannya warga dibantu oleh Pertamina yang memilki depot pengisian bahan bakar di dekat kampung tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Warga sekitar mengumpulkan sisa makanan rumah tangga untuk dijadikan kompos. Hasilnya bisa dipakai untuk memupuk tanaman masing-masing. Untuk sampah non organik, masing-masing warga juga mengumpulkan kemudian kami panggil pengepul yang mau membelinya,” kata Nyoman Supake, koordinator pengelolaan sampah kepada detikHealth di kediamannya, Kamis (13/9/2012).

Nyoman yang merupakan seorang pensiunan guru ini mengaku tidak semua warga di kampung mau berpartisipasi dalam pengelolaan limbah. Dari 6 komposer yang tersedia, sebanyak 2 komposer kurang digunakan secara optimal oleh warga.

Limbah dalam komposer harus didiamkan selama 6 bulan agar dapat menghasilkan kompos. Setelah cukup 'matang', kompos yang diperoleh saat ini hanya dipakai sebatas untuk keperluan warga. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan kompos akan dijual jika perkembangannya signifikan.

Nyoman mengaku program pengelolaan limbah ini di sisi lain bermanfaat untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya pengelolaan lingkungan. Awalnya, kampung yang dihuni oleh 53 kepala keluarga ini terbilang kumuh.

"Ada perubahan yang cukup bagus. Dulu di daerah sini lalatnya banyak karena dekat dengan tempat pemotongan sapi. Limbahnya sering masuk ke selokan kami. Beberapa warga ada yang sering terserang disentri. Sekarang sistem pengairannya sudah kami benahi dan lebih bersih," tutur Nyoman.

Banjar Ambengan merupakan salah satu desa binaan Pertamina di Bali. Selain memberikan bantuan berupa teknik dan alat pengelolaan limbah, perusahaan pengelolaan minyak dan gas bumi milik pemerintah ini juga memberikan pelatihan mengenai pemanfaatan limbah non organik.

Warga sekitar, terutama ibu-ibu, saat ini mulai bergiat membuat kerajinan dari limbah yang tak dapat didaur ulang. Contohnya adalah sedotan plastik yang dibuat sedemikian rupa hingga menjadi taplak.



(pah/ir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads