"Insting adalah peralatan tambahan bagi dokter untuk mendapatkan info lebih dari sekedar tanda-tanda klinis," kata Dr Ann Van den Bruel dari University of Oxford yang melakukan penelitian tersebut, seperti dikutip dari Huffingtonpost, Jumat (28/9/2012).
Dalam penelitiannya, Dr Bruel mengamati 3.369 anak dan remaja berusia di bawah 16 tahun yang datang ke dokter karena sakit. Dari jumlah tersebut 6 di antaranya mengalami infeksi serius dan harus mendapat perawatan lebih lanjut di rumah sakit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tentunya saat tiba di rumah sakit, pasien tidak serta merta dirawat sesuai anjuran dokter karena masih haris menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Namun justru itu yang membuktikan bahwa kadang-kadang insting seorang dokter anak bisa menyelamatkan pasien.
Meski begitu, ada kalanya insting seorang dokter salah dan kalau tidak didukung dengan bukti ilmiah maka akan menyebabkan pengobatan yang tidak perlu. Dalam penelitian ini misalnya, ada 44 kasus yang berdasarkan insting dinilai sebagai infeksi serius tetapi ternyata salah.
Dalam kesimpulannya, para peneliti tetap menganjurkan agar dokter tidak mengabaikan instingnya saat menangani pasien anak. Dokter harus bisa memanfaatkan insting untuk mengurangi kasus-kasus serius yang terlewatkan tanpa menyebabkan 'false alarm' alias peringatan untuk kasus-kasus yang ternyata tidak serius.
(up/ir)











































