Profesor Graeme Hankey, kepala unit stroke di Royal Perth Hospital menuturkan stres kronis yang dialami seseorang bisa menjadi faktor risiko untuk stroke, meskipun hubungan ini tidak terlalu kuat.
Dalam studi yang dilakukan Profesor Craig Anderson dari The George Institute for Global Health mengungkapkan stres tidak berhubungan langsung dengan stroke. Tapi ada kemungkinan memperburuk gejala yang ada serta menjadi faktor risiko untuk stroke.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Interstroke dan studi lainnya menemukan stres kronis merupakan faktor risiko, tapi tampaknya tidak menjadi salah satu faktor yang kuat," ujar Profesor Hankey, seperti dikutip dari abc.net.au, Kamis (11/10/2012).
Profesor Hankey menuturkan ada penjelasan biologis mengenai hubungan stres dan stroke. Stres kronis membuat tubuh mengalami tekanan darah tinggi yang dapat memicu kerusakan dinding pembuluh darah, sehingga meningkatkan risiko penyakit salah satunya stroke iskemik.
Sedangkan pada stres akut diketahui mempengaruhi trombosit dalam darah yang meningkatkan proses pembekuan dan menyebabkan penyumbatan arteri di atau dekat otak. Hal ini karena trombosit diaktifkan oleh hormon adrenalin.
Hal lain yang bisa mempengaruhi adalah bagaimana cara orang mengatasi stresnya. Jika ia menggunakan rokok dan alkohol untuk mengelola stres maka kondisi ini berkontribusi besar terhadap tekanan darah tinggi yang dapat memicu stroke.
"Saat stres orang bisa merokok dan minum lebih banyak, serta tidak tidur dengan baik. Semua hal ini mempengaruhi fisiologis dan menempatkan diri pada risiko masalah jantung serta stroke," ungkapnya.
Namun beberapa perubahan gaya hidup yang bisa mengurangi risiko stroke juga dapat menurunkan stres, seperti tidak merokok, rutin periksa darah dan kolesterol, mengonsumsi diet seimbang dan berolahraga secara teratur.
(ver/ir)











































