Obat Anti Bunuh Diri Itu Liburan

Obat Anti Bunuh Diri Itu Liburan

Putro Agus Harnowo - detikHealth
Senin, 15 Okt 2012 11:02 WIB
Obat Anti Bunuh Diri Itu Liburan
ilustrasi (foto: Thinkstock)
Jakarta - Seiring perkembangan peradaban dan membludaknya jumlah penduduk, tuntutan hidup juga makin beragam dan rentan memicu depresi. Depresi akut bisa berbahaya sebab rawan berujung pada bunuh diri. Sebuah penelitian menemukan bahwa obatnya cukup sederhana, yaitu liburan.

Para peneliti di University of Cincinnati (UC) dan Rumah Sakit Anak Cincinnati Medical Center menemukan bahwa hari libur ternyata berkaitan dengan penurunan angka percobaan bunuh diri. Nampaknya berkumpul bersama keluarga atau dukungan sosial selama liburan dapat melindungi seseorang dari upaya bunuh diri.

"Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ada 'wabah' bunuh diri yang memburuk secara internasional. Angka upaya bunuh diri juga ikut meningkat. Para peneliti telah melihat kecenderungan bunuh diri musiman dan harian. Mereka menyarankan bahwa faktor-faktor lingkungan dan efeknya pada suasana hati dapat memainkan peran," kata peneliti, Dr Gillian Beauchamp seperti dilansir Medical Daily, Senin (15/10/2012).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tingkat bunuh diri di kalangan orang dewasa berusia 25 - 64 tahun meningkat tiap tahun sejak 1999. Kenaikan tercepat terlihat pada usia 45 - 64 tahun. Para peneliti kemudian berupaya mencari tahu apakah hari, bulan atau hari libur tertentu ada kaitannya dengan peningkatan percobaan bunuh diri dengan cara menenggak racun.

Peneliti menganalisis panggilan darurat yang tercatat dalam National Poison Database System per tanggal 1 Januari 2006 sampai 31 Desember 2010 yang dikategorikan dalam upaya bunuh diri. Peneliti hanya memasukkan pasien yang memiliki riwayat overdosis dengan disengaja.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 1,06 juta upaya bunuh diri selama rentang waktu tersebut. Setiap tahun ada peningkatan angka upaya bunuh diri yang signifikan. Misalnya, upaya bunuh diri di tahun 2006 sebanyak 198.806 dan meningkat menjadi 219.849 pada tahun 2010.

Peneliti membandingkan jumlah upaya bunuh diri pada hari libur dan memasukkan rentang waktu 3 - 7 hari sebelum dan sesudah hari libur. Hasilnya menunjukkan bahwa liburan memiliki efek yang relatif kecil terhadap upaya bunuh diri. Hari-hari di dekat liburan juga menunjukkan angka upaya bunuh diri yang lebih rendah.

"Temuan ini mungkin mencerminkan keluarga atau dukungan sosial lainnya yang lebih banyak diperoleh selama liburan. Satu-satunya pengecualian adalah libur Tahun Baru, yaitu ada lonjakan dalam upaya bunuh diri. Penelitian juga mengungkapkan bahwa di awal minggu dan awal musim semi ada peningkatan upaya bunuh diri," kata Beauchamp.

Para peneliti mengatakan bahwa mempelajari waktu-waktu yang rawan bunuh diri ini dapat memberikan pemahaman yang lebih baik dalam pencegahan bunuh diri. Selain itu, temuan ini juga bermanfaat untuk memberikan konseling pasien.

(pah/ir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads