"Perlakuan yang kita miliki untuk hal ini sangat efektif, dan diharapkan bisa lebih banyak orang yang mendapatkan pengobatan sehingga tak takut lagi untuk terbang," ujar psikolog Todd Fachione dari Boston University's Center for Anxiety and Related Disorders, seperti dikutip dari Health24, Senin (22/10/2012).
Farchione menjelaskan pengobatan yang diberikan untuk orang yang takut terbang merupakan kombinasi antara terapi kognitif dan juga perilaku, termasuk mempengaruhi pikiran pasien dan mengubah pola pikirnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini seperti kokpit pesawat dengan layar video, disertai pula dengan getaran, suasana saat lepas landas, mendarat dan juga berbagai kondisi cuaca," ujar psikolog John Hart dari Menninger Clinic di Houston.
Para ahli menuturkan kebanyakan dari orang yang takut terbang didasari oleh ketakutan akan ketinggian atau claustrophobia. Beberapa studi menemukan penyebabnya bisa karena pernah mengalami pengalaman buruk ketika terbang, sensitif terhadap guncangan atau turbulensi atau bahkan tidak diketahui alasannya.
Biasanya ketika seseorang mengalami ketakutan terbang, ia akan dilanda rasa khawatir dan ketakutan yang berlebihan, disertai dengan mual, muntah atau bahkan serangan jantung mendadak.
Farchione mengungkapkan salah satu kunci keberhasilan dalam mengatasi ketakutan akan terbang adalah menantang pikiran yang dimiliki oleh orang tersebut agar mampu menyingkirkan pemikiran yang membuatnya khawatir dan juga takut.
Beberapa pasien yang sudah mengikuti program pengobatan ini kini bisa menjalani penerbangan dengan aman ke mana pun ia pergi, serta tak perlu lagi mengonsumsi obat-obatan anti cemas.
(ver/vit)










































