Mengalami retardasi atau keterbelakangan mental membuat Ucok susah mengungkapkan perasaan. Ketika amarah tidak tertahankan, pintu kaca pun jadi pelampiasan. Prang! Dan 18 jahitan di tangan pun didapat Ucok, sekaligus meredam jerit tangis di hatinya.
Ucok adalah salah seorang penghuni Panti Asih Pakem, sebuah panti rehabilitasi di kaki Gunung Merapi yang menampung para pengidap keterbelakangan mental dan telah berdiri sejak tahun 1967. Ia merupakan 1 dari 7 penghuni panti yang masih tersisa.
Sebenarnya, Ucok bukan pemarah. Pengidap retardasi mental yang sudah berusia 56 tahun itu bahkan cenderung sangat ramah. Peristiwa yang sudah terjadi beberapa tahun silam itu terjadi karena Ucok benar-benar marah besar lalu bingung karena tidak bisa mengungkapkannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ibu tiga anak yang bekerja di Panti Asih sejak 1970 itu juga mengungkap penghuni panti memang sering membenturkan kepala ke tembok atau meja ketika sedang marah. Beruntung dalam banyak kasus, perilaku itu cepat ketahuan sehingga bisa dicegah meski ada juga pasien yang sudah terlanjur berdarah-darah.
"Tapi selama saya bekerja di sini, ndak pernah ada yang bunuh diri atau melukai diri sendiri. Paling hanya marah saja, mengungkapkan kekesalan. Kan nggak bisa ngomong, introvert jadi bisanya gitu," kata Yuliastuti yang ditemui di Panti Asih, Selasa (23/10/2012).
Betapapun marahnya, Ucok tidak pernah kehilangan rasa cintanya terhadap para pengasuh di panti. Ia akan kembali ramah setelah lega mengeluarkan isi hatinya. Bagaimana tidak, sejak kecil ia hidup sebatang kara, tanpa keluarga dan hanya para pengasuh di pantilah yang mengurusnya.
Senasib dengan Ucok, 6 penghuni panti yang lain juga tidak memiliki keluarga. Itu pula sebabnya, hingga kini panti ini masih berdiri dan setia merawat para penghuni yang masih tersisa. Beberapa orang termasuk Ucok tidak bisa dikembalikan karena memang tidak punya keluarga.
Semula, panti ini merawat sekitar 80-an penghuni dan memiliki 63 staf pengasuh. Tetapi karena beberapa penghuni sudah makin dewasa dan mencapai usia 30-an dan 40-an tahun, dan kebetulan juga karena terjadi erupsi Gunung Merapi pada 2010, maka para penghuni dikembalikan ke keluarga masing-masing.
Tidak mudah untuk mengembalikan pada keluarga. Para pengurus harus blusukan hingga ke Jakarta dan daerah-daerah lain. Bahkan karena beberapa penghuni merupakan anak buangan yang ditinggal begitu saja di rumah sakit atau jalanan, ada juga keluarga yang tidak mau mengakui dan tidak mencantumkannya dalam KK (Kartu Keluarga).
"Baru mau ngetuk pintu udah disuruh pergi. Untungnya ada pak RT setempat yang mau bantu jelasin kalau ini anaknya," tutur pengurus panti yang lain, Laksanti Nugrahani mengisahkan suka duka menghadapi penolakan dari keluarga yang tidak mau lagi mengakui anak yang pernah dititipkannya ke panti.
Semenjak terjadi erupsi Gunung Merapi yang akhirnya memperburuk kesulitan finansial, kondisi panti makin terbengkalai. Kamar-kamar asrama dan paviliun yang sudah tidak berpenghuni mulai tak terurus. Gedung peninggalan zaman Belanda yang merupakan bekas sanatorium milik YAKKUM (Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum) dan berstatus pinjam pakai ini makin tampak menyeramkan.
Memang ada beberapa kegiatan yang masih berjalan di panti seperti CBR atau Community-Based Rehabilitation, semacam program rehabilitasi pengidap gangguan jiwa selama 2-3 bulan yang berjalan sejak 2005. Namun karena tersendat-sendat oleh dampak erupsi Gunung Merapi, program ini sekarang juga sudah tidak bisa gratis seperti semula.
Kondisi yang tengah dihadapi Panti Asih mungkin tak ubahnya seperti Ucok saat frustrasi menahan amarahnya beberapa tahun silam. Tidak tahu apa yang harus dilakukan, sementara kondisinya makin memprihatinkan. Sampai kapan bisa bertahan? Wallahu a'lam.
(vit/vit)











































