Bunuh diri merupakan tragedi rumit yang meninggalkan banyak pertanyaan. Sebuah studi baru yang dipublikasikan pekan ini dalam Archives of Pediatrics & Adolescent Medicine, dan dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Academy of Pediatrics, di New Orleans, menyebut ada berbagai bentuk pelecehan dan bullying terkait dengan munculnya pikiran bunuh diri pada anak dan remaja.
Para peneliti menggelar survei kepada anak dan remaja berumur 10-17 tahun. Para responden diwawancara melalui telepon sebanyak dua kali pada 2008 dan 2010. Nah, salah satu pertanyaan dalam survei adalah: 'berapa kali kamu ingin bunuh diri?'.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berpikir bunuh diri atau ingin bunuh diri tidak selalu menyebabkan para responden berusaha untuk bunuh diri. Namun hal ini menjadi peringatan penting bahwa kecemasan dan depresi berlebihan bisa memunculkan keinginan bunuh diri.
"Paparan pada kekerasan, tidak hanya cyberbullying tetapi juga kekerasan yang dilakukan teman sebaya dan kekerasan seksual, meningkatkan risiko bunuh diri," terang Dr Elizabeth Miller, seperti dikutip dari CNN, Kamis (25/10/2012).
Miller memang tidak terlibat dalam penelitian, namun dia mengerti benar soal anak lantaran menjadi kepala dokter bagi remaja di Rumah Sakit Anak Pittsburgh.
Menjadikan anak sebagai target bullying lebih berbahaya jika dilakukan oleh orang dewasa ketimbang teman-temannya. Menurut penelitian, jika seorang anak mendapat kekerasan secara fisik maupun emosional dari orang tua atau pengasuhnya bisa membuat keinginan bunuh diri meningkat hingga empat kali.
Risiko bunuh diri semakin meningkat jika anak-anak atau remaja mendapat berbagai bentuk kekerasan di tahun yang sama. Mengalami berbagai pelecehan sekaligus pun memiliki dampak yang sangat merusak. Apalagi jika di rumah si anak juga mendapat perlakuan yang sama. Sebab hal itu membuat anak-anak merasa ditinggalkan sehingga tidak punya tempat untuk berpaling.
"Anak-anak yang mengalami ancaman terhadap keselamatan dan keamanan tidak memiliki cukup dukungan dan pengasuhan di rumah," kata Heather A Turner, profesor sosiologi University of New Hampshire, yang menjadi kepala penelitian.
Alih-alih menjadi bekal menghadapi kesulitan dalam kehidupannya di masa mendatang, bullying malah mengganggu mental anak-anak dan remaja.
Elizabeth Miller menambahkan penelitian tersebut membantu menunjukkan upaya pencagahan bunuh diri pada anak dan remaja. Selain itu perlu diperhatikan lebih jelas bentuk-bentuk kekerasan seperti apa saja yang memapar anak-anak sehinga mereka ingin mengakhiri hidupnya.
Selain itu perlu diwaspadai juga bullying yang dialami anak-anak di dunia cyber. Apalagi sekarang anak-anak dan remaja sudah sangat dekat dengan berbagai gadget yang memudahkan mereka terhubung dengan dunia luar.
"Secara tradisional, tidak ada perbedaan antara hari-hari di sekolah dan di luar sekolah," kata Direktur Psikiatri North Shore-Long Island Jewish Health System, Dr Victor Fornari, yang juga terlibat dalam penelitian tersebut.
"Sekarang anak-anak tidur dengan membawa smart phone dan mengecek situs jejaring sosialnya sebelum menggosok gigi di pagi hari," imbuhnya.
Bullying yang terjadi secara langsung ataupun tidak langsung melalui dunia cyber bukanlah satu-satunya pemicu pemikiran atau keinginan bunuh diri. Sebab gangguan mood seperti depresi juga turut berkontribusi. Karena itu perlu perlindungan yang lebih memadai kepada anak, baik itu dari orang tua, guru di sekolah, dan lingkungan sekitar.
(/up)










































