Sabtu, 10 Nov 2012 11:56 WIB

Terobsesi Jadi Kurus Saat Kena Diabetes, Malah Harus Kehilangan Bayi

- detikHealth
Jeorgia (dok: Mirror)
Jakarta - Orang yang memiliki diabetes perlu mengontrol kadar gula darah untuk mencegah komplikasi. Tapi hal ini tidak dilakukan Jeorgia, demi memiliki tubuh kurus ia mengabaikan pengobatan dan menyebabkan kehamilannya harus dihentikan.

Setelah bertahun-tahun melakukan diet ketat yang berbahaya dalam melawan diabetes, kini dokter harus menyampaikan kabar buruk bahwa Jeorgia (29 tahun) harus mengakhiri kehamilannya.

Dokter mengungkapkan bahwa ia mengembangkan suatu kondisi yang disebut hyperemesis gravidarum yang menyebabkan ia muntah setiap 10-30 menit. Kondisi ini membuat ia tidak akan bertahan hidup dengan kehamilannya dan juga bayi yang dikandungnya.

Tidak hanya harus kehilangan bayinya, Jeorgia juga berisiko mengalami kebutaan, kehilangan anggota badan dan menjalani transplantasi pankreas akibat kondisi diabulimia.

Meskipun kondisi ini belum diakui secara resmi, tapi diabulimia adalah masalah serius yang diprediksi oleh para ahli dialami oleh sepertiga dari perempuan muda yang memiliki diabetes.

Kondisi ini terjadi ketika penderita diabetes yang sudah ketergantungan insulin melewatkan suntikan hormon ini untuk membuat dirinya lebih kurus. Padahal melewatkan suntikan insulin hanya karena takut berat badannya bertambah adalah hal yang berbahaya.

"Melewatkan insulin bisa menyebabkan kadar glukosa darah tinggi dan komplikasi kesehatan yang merusak, seperti kebutaan, amputasi dan stroke," ujar Deepa Khatri, penasihat klinis Diabetes UK, seperti dikutip dari Mirror, Sabtu (10/11/2012).

Dalam kasus Jeorgia ini, kerusakan pada tubuhnya akibat tidak menyuntikkan insulin bersifat permanen. Hal ini dilakukannya karena ia terobsesi untuk menjadi lebih kurus.

"Jika saya bisa kembali ke usia 16 tahun, saya akan meyakinkan diri sendiri bahwa menjadi kurus tidaklah penting. Saya lebih suka menjadi gemuk dan memiliki bayi, daripada kurus, buta dan tidak punya anak," ungkap Jeorgia.

Saat kecil Jeorgia adalah anak yang gemuk, tapi ketika ia berusia 11 tahun berat badannya menurun, sering haus dan mengalami kelelahan yang terus menerus. Dokter mengatakan bahwa ia memiliki diabetes tipe 1 atau dikenal dengan juvenile diabetes.

Dokter meminta Jeorgia memantau segala sesuatu yang dimakan dan teratur memeriksa kadar gula darahnya. Ia pun perlu menyuntikkan insulin 4-5 kali sehari untuk mengatasi kelebihan gula dalam aliran darahnya.

Selama 5 tahun ke depan berat badannya meningkat dan saat berusia 17 tahun ia merasa dirinya sangat tidak menarik, sehingga seringkali benci dengan tubuhnya ketika tengah bercermin.

Sejak saat itu ia mulai terobsesi untuk membuat tubuhnya menjadi kurus, salah satu cara yang digunakannya adalah melewatkan suntikan insulin karena bisa membuat berat badannya turun dengan cepat.

Melewatkan suntikan insulin ini membuatnya secara pelahan mengalami berbagai komplikasi mulai dari gangguan mata, saraf yang mati hingga masalah di pankreas.

Namun hal yang paling menyedihkannya adalah ketika ia harus mengakhiri kehamilannya, dokter mengatakan kondisi ini bisa berbahaya bagi dirinya dan juga janin di dalam kandungannya akan sulit untuk bertahan.

"Saya berharap pengalaman ini menjadi peringatan bagi penderita diabetes muda lainnya untuk tidak melakukan hal yang sama. Saya sudah menyadari cara keras untuk jadi kurus adalah hal yang tidak layak," ujar Jeorgia.

(ver/nvt)