Hal itu dikemukakan sebuah studi yang mengungkap kadar bahan kimia tahan api (flame retardant chemicals) pada sejumlah perabot yang ada di setiap rumah itu. Bahkan untuk studi yang dipublikasikan dalam jurnal Environmental Science and Technology ini, peneliti mengamati busa dari 102 jenis sofa yang berasal dari penjuru AS.
Dari situ peneliti menemukan bahwa 85 persen sofa mengandung kombinasi flame retardant, terutama pada bagian dudukan sofa dan bantalnya. Namun ternyata senyawa ini juga ditemukan pada kursi mobil dan nursing pillow atau produk lain yang berbahan busa polyurethane. Padahal busa ini juga biasa digunakan untuk membuat karpet dan peralatan elektronik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Uniknya meski produsen yang sofanya telah memenuhi standar bisa melabeli produknya sesuai dengan standar California, produsen tidak perlu memberitahu konsumen bahwa produknya menggunakan flame retardant.
Bahkan kalaupun ada sofa yang tidak mencantumkan label TB 117, studi ini menemukan bahwa sofa-sofa itu cenderung menggunakan flame retardant. Faktanya, 64 persen sofa yang tidak berlabel TB 117 masih menggunakan flame retardant sebagai salah satu komposisi utamanya.
Masalahnya, senyawa kimiawi ini telah lama dikaitkan dengan gangguan reproduksi dan rendahnya berat lahir bayi, termasuk gangguan neurologis dan gangguan pertumbuhan pada anak-anak. Studi-studi lainnya juga menemukan bahwa bahan kimia ini menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan hormon hingga kanker.
"Pemerintah membuat kebijakan bahwa standar tertentu harus dipenuhi tapi mereka tak memberitahu bagaimana caranya. Lagipula cara paling murah untuk memenuhi standar itu adalah dengan menggunakan flame retardant tertentu seperti Penta dan Tris," terang peneliti dan pakar kimia, Arlene Blum seperti dikutip dari CNN, Kamis (29/11/2012).
Padahal Tris telah lama terbukti sebagai flame retardant yang paling banyak terkandung di dalam sofa meski nyatanya Tris telah terdaftar sebagai salah satu jenis karsinogen di California dan dilarang digunakan dalam piyama anak-anak sejak tahun 1977 oleh Consumer Product Safety Commission.
Selain itu, bahan kimia lain yang paling banyak 'dijumpai' di sofa yaitu Polybrominated Diphenyl Ethers (PBDE) tengah diselidiki oleh Environmental Protection Agency karena memunculkan kekhawatiran terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.
Menurut EPA secara kimiawi PBDE tak bisa terikat pada plastik, busa, kain atau produk lain yang biasanya dibuat dengan bahan kimia itu sehingga jika dipakai bahan kimia ini akan lebih cenderung merembes keluar dari produk-produk yang bersangkutan dan merusak kesehatan."










































