Jangan Biarkan Program Kesehatan Melempem!

Jangan Biarkan Program Kesehatan Melempem!

- detikHealth
Rabu, 19 Des 2012 15:58 WIB
Jangan Biarkan Program Kesehatan Melempem!
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Angka kematian ibu hamil dan bayi baru lahir di Indonesia masih terbilang tinggi. Kementerian Kesehatan telah melakukan berbagai upaya untuk menekan angka ini. Namun program-program tersebut tak akan sukses jika pemerintah daerah tidak ikut berperan aktif.

"Saat zaman sentralisasi dulu, menteri kesehatan punya tangan yang kuat lewat kanwil kesehatan yang membawahi dinas kesehatan. Jadi andaikata menkes turun ke bawah menemui puskesmas yang tidak bagus, menkes bisa memecat. Tapi kita sekarang tidak bisa," kata Slamet Riyadi Yuwono, Direktur Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kemenkes RI dalam acara Semiloka Pembelajaran Terpadu di Ballroom Hotel Crowne Jakarta, Rabu (19/12/2012).

Slamet menuturkan sistem sentralisasi memang tak lagi bisa dipertahankan. Maka ketika pemerintah pusat lewat kementerian kesehatan turun ke daerah, pemerintah akan menanyai apa yang menjadi kebutuhan di sana. Daerah berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri, kalau ada yang belum bisa diselesaikan baru bisa meminta bantuan pemerintah pusat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saking pentingnya kebijakan di daerah untuk mendukung keberhasilan program pemerintah, Slamet menjelaskan bahwa seringkali peraturan pusat bisa mental akibat kebijakan yang diterapkan di daerah. Misalnya klaim Jampersal yang sempat diberikan Rp 30 ribu per pasien. Para bidan banyak yang enggan bergabung karena merasa jumlah uang yang didapat kurang setimpal.

Akibatnya, pasien bersalin ramai-ramai dirujuk ke rumah sakit sehingga angka kematian ibu hamil begeser dari rumah ke rumah sakit. Pemerintah kemudian mengganti biaya klaim jampersal menjadi Rp 500.000. Tapi ternyata masih ada bidan yang enggan bergabung karena ternyata hanya mendapat Rp 200.000, sisanya mauk kas pemda.

"Kami tidak lagi bisa memberi instruksi teknis yang detail, tetapi hanya memberi panduan-panduan saja. Tapi lesson learnt bisa ditularkan ke tempat lain. Kita bisa membandingkan program keberhasilan di daerah dengan daerah lain. Seringkali kita lihat ada beberapa model yang tidak berhasil karena penerapan di tiap daerah berbeda," terang Slamet.

Kembali pada masalah penekanan angka kematian ibu hamil dan bayi, Slamet menekankan agar penanganannya dimulai sedini mungkin. Misalnya bisa dimulai dari menangani problem remaja dengan mengajarkan bagaimana cara menjadi calon suami dan istri yang baik.

Selain itu juga perlu perlu dilakukan pengkajian besar karena 3 penyebab utama kematian ibu hamil di Indonesia masih berkutat seputar adalah infeksi, perdarahan dan preeklamsia. Untuk masalah kesehatan bayi, berfokus pada program 1.000 hari kehidupan akan mempengaruhi kesehatan seseorang sampai usianya renta. Masuk ke sekolah, layanan UKS juga perlu diperkuat.

(pah/vit)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads