Pernyataan Menkes soal kondom kali ini sebenarnya bukan gagasan baru, terutama bagi yang mengikuti perkembangan isu HIV-AIDS. Akses kondom bagi kelompok berisiko terbukti efektif sebagai proteksi terhadap infeksi menular seksual maupun kehamilan tidak diinginkan.
Sebelumnya ini, Nafsiah Mboi sebagai Sekretaris KPAN (Komisi Penanggulangan AIDS Nasional) kerap menyampaikan gagasan soal kondom. Bedanya, saat disampaikan dalam kapasitasnya sebagai Menkes, gagasan ini oleh sebagian kalagan dipahami sebagai gerakan bagi-bagi kondom untuk remaja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sejak tadi malam, saya banyak di-SMS, di-twitter dan sebagainya, mencela bahwa Menteri Kesehatan akan membagi-bagi kondom secara gratis di SMA. Ini sama sekali tidak benar," tutur Menkes mengawali penjelasannya dalam tayangan tersebut.
Pusat Komunikasi Publik Kementerian Kesehatan juga menegaskan tujuan intensifikasi penggunaan kondom adalah untuk menghindari penularan penyakit seperti gonorrhea atau kencing nanah, sifilis atau raja singa maupun infeksi HIV (Human Imunnodeficiency Virus) di kelompok berisiko. Selain itu, kondom juga diharapkan bisa mencegah kehamilan tidak diinginkan.
Khusus di kalangan remaja, Menkes sudah memiliki solusi tersendiri agar terhindari dari perilaku seks berisiko. Selain dengan pendidikan agama dan kesehatan reproduksi yang komprehensif, Kemenkes juga melakukan upaya pencegahan melalui kampanye ABAT (Aku Bangga Aku Tahu).
Pesan utama yang ingin disampaikan melalui kampanye ABAT adalah mengedepankan upaya pengenalan penyebab HIV-AIDS, proses penularan dan bagaimana mencegahnya. Kampanye yang menargetkan kelompok usia 15-24 tahun ini memiliki jargon yang cukup tegas, yakni No Drugs dan No Free Seks.
(up/vit)










































